Pilkada di DPRD
Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Berisiko, Akademisi Gorontalo Soroti Ancaman Kemunduran Demokrasi
Gagasan mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mencuat dan memicu perdebatan di ruang publik.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/pilkada-ulang.jpg)
“Sekarang saja partisipasi belum optimal. Jika hak memilih diambil, jarak emosional masyarakat terhadap politik bisa semakin lebar,” katanya.
Situasi tersebut, lanjut Imran, berpotensi memunculkan sikap apatis di tengah warga.
“Masyarakat bisa merasa tidak lagi dilibatkan dalam menentukan masa depan daerahnya,” ujarnya.
Soal potensi menguatnya oligarki politik, Imran menilai fenomena itu bisa terjadi dalam sistem apa pun.
“Oligarki bisa muncul baik dalam sistem langsung maupun tidak langsung,” katanya.
Namun ia menilai, sistem pemilihan langsung masih memberikan ruang yang lebih terbuka bagi munculnya figur alternatif, selama mekanismenya diperbaiki.
Ia menegaskan demokrasi harus tetap berpijak pada prinsip dasar kedaulatan rakyat.
“Demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Yang harus dibenahi adalah caranya, bukan hak dasarnya,” ujarnya.
Imran berharap wacana perubahan sistem pilkada dikaji secara matang dan tidak diputuskan secara tergesa-gesa.
“Ini menyangkut masa depan demokrasi di daerah, jadi perlu pertimbangan yang sangat hati-hati,” pungkasnya. (*/Jefri)
| Mahasiswa Makassar Turun ke Jalan, Tolak Pilkada Lewat DPRD |
|
|---|
| Ide Kepala Daerah Dipilih DPRD Ditolak Keras Mahasiswa Gorontalo, Dinilai Rampas Hak Rakyat |
|
|---|
| Soal Pilkada, Gerindra Gorontalo Pilih Taat Regulasi |
|
|---|
| Survei Ungkap Penolakan Masif Wacana Pilkada DPRD di Semua Segmen Pemilih, Dari Boomers hingga Gen Z |
|
|---|
| Partai Demokrat Setuju Pilkada Dilakukan DPRD, Warga tak Perlu Nyoblos Kepala Daerah |
|
|---|