Info Cuaca Gorontalo
BMKG Prediksi Awal Kemarau di Gorontalo, Ini Jadwal dan Dampaknya
Kondisi ini menandai masuknya fase pancaroba, yakni masa peralihan yang ditandai dengan cuaca tidak stabil, panas mulai meningkat, namun hujan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CUACA-Potret-pesisir-Selatan-Gorontalo-siang-ini-Kamis-2632026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Gorontalo mulai memasuki masa pancaroba yang ditandai dengan cuaca tidak menentu dan peningkatan suhu udara.
- Meski curah hujan mulai berkurang, beberapa wilayah masih berpotensi diguyur hujan akibat faktor lokal.
- BMKG memperkirakan musim kemarau akan dimulai dalam waktu dekat dengan puncak pada Agustus hingga September.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Perubahan pola cuaca mulai terasa di Gorontalo menjelang April 2026.
Kondisi ini menandai masuknya fase pancaroba, yakni masa peralihan yang ditandai dengan cuaca tidak stabil, panas mulai meningkat, namun hujan masih bisa turun sewaktu-waktu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut periode ini sebagai fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada suhu udara, tetapi juga memengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah.
Baca juga: Gebyar Ketupat Gorontalo, Ada Lomba Ketinting Siap Ramaikan Pesisir Leato Selatan
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Cucu Kusmayancu, menjelaskan bahwa April secara klimatologis merupakan masa peralihan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo.
"Secara Klimatologis, bulan april adalah masa peralihan (pancaroba) di Indonesia termaksud di wilayah Gorontalo," ujarnya saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Kamis (26/3/2026).
Dalam periode ini, intensitas hujan secara umum mulai menurun. Namun, kondisi tersebut tidak merata di semua wilayah Gorontalo.
Daerah tertentu, terutama bagian selatan, masih memiliki peluang diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Menurut Cucu, hujan di wilayah tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yang dapat memicu turunnya hujan secara tiba-tiba.
Sementara itu, wilayah Gorontalo bagian utara mulai menunjukkan ciri musim kering dengan suhu yang terasa lebih panas.
Ia juga mengungkapkan bahwa kemunculan musim kemarau dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer.
Salah satunya adalah pergerakan angin timuran yang membawa massa udara kering dari Australia ke wilayah Indonesia.
"Penyebab kemarau yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti angin timuran dan pergeseran matahari," katanya.
Selain itu, pergeseran posisi matahari ke belahan bumi utara meningkatkan intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Indonesia, khususnya bagian tengah dan selatan.