Lipsus Kopi Gorontalo
Terungkap Alasan Mahasiswa Gorontalo Kini Lebih Sering Nongki di Street Coffee
Lapak kopi pinggir jalan atau street coffee kini menjadi pemandangan yang semakin akrab di Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/STREET-COFFEE-Dua-pengunjung-lapak-street-coffe-Panjaitan.jpg)
Pengalaman serupa dirasakan Febriyanti Harun (19), mahasiswi Poltekkes asal Isimu, Kabupaten Gorontalo.
Ia menilai nongkrong di pinggir jalan memberikan kesan lebih dekat antar teman.
“Kalau di pinggir jalan itu rasanya lebih akrab, tidak ada jarak. Kita bisa duduk berdekatan, cerita apa saja, tidak perlu merasa sungkan,” tuturnya.
Febriyanti mengatakan, nongkrong di street coffee tidak selalu soal kopi.
Banyak pengunjung justru datang untuk berbagi cerita dan melepas penat setelah seharian beraktivitas.
“Kadang kopinya biasa saja, tapi suasananya yang bikin betah. Kita bisa cerita panjang sama teman, ketawa-ketawa, jadi stres juga berkurang,” katanya.
Untuk frekuensi, ia biasanya datang satu hingga dua kali seminggu jika sendiri. Namun jika bersama teman, bisa mencapai tiga sampai empat kali.
“Kalau lagi sering kumpul sama teman, bisa sampai empat kali seminggu,” ujarnya.
Soal lokasi, Febriyanti tidak terpaku pada satu tempat. Ia lebih memilih berdasarkan suasana dan harga.
“Yang penting suasananya ramai tapi nyaman, terus harganya murah. Kalau sudah cocok, biasanya sering datang lagi,” katanya.
Ia berharap ke depan lapak-lapak kopi pinggir jalan bisa terus berkembang dan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM.
“Kalau makin banyak UMKM yang jualan, pilihannya juga makin banyak dan pengunjung pasti tambah ramai,” ucapnya.
Sementara itu, Meilan Senewe (22), warga Jalan Glatik, Kota Gorontalo, menilai street coffee menarik karena memberi pengalaman menikmati suasana kota secara langsung.
“Kalau nongkrong di pinggir jalan itu lebih santai karena bisa langsung lihat aktivitas kota, lihat kendaraan lewat, orang-orang juga, jadi tidak bosan,” ujarnya.
Ia menyebut penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan justru membuat lokasi nongkrong lebih nyaman.
| Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo |
|
|---|
| Street Coffee Kuasai Kota Gorontalo,Ratusan Lapak Padati Pasar Sentral dan Jalan Panjaitan |
|
|---|
| Kopi Jalanan Jadi Tren Anak Muda di Gorontalo, Syamsir Angkat Kopi Lokal |
|
|---|
| Kerap Sepi di Hari Normal, Pedagang Kopi di Pasar Sentral Gorontalo Punya Cara Balas Dendam |
|
|---|