Lipsus Kopi Gorontalo
Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo
Fenomena menjamurnya warung kopi (warkop) dan street coffee atau kopi jalanan di Gorontalo mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dosen-Sosiologi-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG-Sabrina-Nadia.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kopi kini bukan sekadar minuman, melainkan telah bertransformasi menjadi media interaksi sosial utama dan ruang pertemuan untuk membahas berbagai topik
- Budaya nongkrong di warkop kini didominasi oleh generasi muda (Gen Z dan Gen Alpha)
- Fenomena ini menciptakan peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat serta membantu membangun jejaring sosial baru
TRIBUNGORONTO.COM – Fenomena menjamurnya warung kopi (warkop) dan street coffee atau kopi jalanan di Gorontalo mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.
Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabrina Nadia, menilai bahwa budaya kopi saat ini berperan penting dalam membentuk relasi sosial warga lintas generasi.
Menurut Sabrina, kopi sejatinya bukanlah hal baru dalam kehidupan masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fungsi kopi mengalami pergeseran signifikan; dari sekadar minuman menjadi media interaksi sosial yang utama.
“Jika kita berbicara tentang kopi, sebenarnya ini sudah terjadi sejak dulu. Kopi bukan hal baru. Namun, beberapa tahun terakhir, kopi justru digunakan sebagai sarana untuk berinteraksi lebih lanjut,” ujar Sabrina saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (22/1/2026).
Sabrina menjelaskan bahwa pergeseran tersebut terlihat dari kebiasaan masyarakat yang kini menjadikan warkop sebagai ruang pertemuan utama. Pertemuan yang sebelumnya dilakukan di rumah atau tempat lain, kini lebih sering diarahkan ke kedai kopi.
“Sekarang jika ingin bertemu orang, sering kali tercetus kalimat, ‘kita ketemu di tempat kopi saja’. Artinya, kopi tidak lagi sekadar minuman, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang sosial,” katanya.
Sabrina mengamati bahwa perubahan fungsi warkop juga tercermin dari topik pembicaraan yang berkembang di dalamnya. Jika sebelumnya obrolan didominasi hal-hal ringan, kini diskusi yang muncul jauh lebih kompleks, mulai dari urusan pekerjaan hingga politik.
“Dulu mungkin hanya obrolan santai untuk hiburan. Namun, beberapa bulan belakangan, justru banyak pembahasan yang cukup berat, mulai dari pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga isu politik dan hal-hal yang sedang viral,” jelasnya.
Ia menyebut fenomena ini semakin menguat dalam beberapa bulan terakhir. Street coffee menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk bertukar pandangan dan membahas situasi terkini.
“Banyak yang membahas bagaimana pemerintah menanggapi masalah yang ada, bagaimana kebijakan dijalankan, dan dampaknya bagi masyarakat. Jadi, aktivitas nongkrong bukan lagi sekadar menghabiskan waktu,” ujarnya.
Baca juga: Dosen Teknik Geologi UNG Muh Kasim Ungkap Alasan Gorontalo Kaya Mineral Emas dan Tembaga
Budaya Kopi dalam Keseharian Warga
Bagi Sabrina, minum kopi di Gorontalo adalah hal lumrah yang telah lama menjadi bagian dari keseharian. Ia melihat kopi hadir di hampir semua lapisan masyarakat, termasuk di lingkungan kerja.
“Minum kopi itu sesuatu yang sangat biasa. Saya melihat rekan-rekan kerja saya juga melakukan hal yang sama,” tuturnya.
Meski demikian, Sabrina menekankan bahwa pandangannya didasarkan pada pengamatan pribadi selama menetap di Gorontalo.
“Saya perlu menyampaikan bahwa saya bukan orang asli Gorontalo. Namun, dari pengamatan sekitar enam bulan terakhir, saya melihat bahwa melalui kopi semua hal bisa dibahas, mulai dari hal kecil hingga isu yang paling berat,” katanya.