Lipsus Kopi Gorontalo
Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo
Fenomena menjamurnya warung kopi (warkop) dan street coffee atau kopi jalanan di Gorontalo mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dosen-Sosiologi-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG-Sabrina-Nadia.jpg)
Sabrina menegaskan bahwa menjamurnya warkop dan lapak kopi jalanan tidak hanya terjadi di Gorontalo, melainkan fenomena yang melanda berbagai daerah di Indonesia.
“Saya berasal dari Pulau Sumatera, dan hal yang sama terjadi di sana. Hampir di setiap jalan utama, khususnya di kota-kota besar, sudah banyak tempat nongkrong kopi,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa tahun lalu. Jika dulu sepanjang jalan lebih banyak ditemui rumah makan, kini justru didominasi oleh warkop dan street coffee. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kopi telah menjadi tren nasional.
Pergeseran Generasi dan Identitas Sosial
Salah satu perubahan menonjol adalah dominasi generasi muda di warkop. Jika dahulu kopi identik dengan orang tua, kini anak muda justru menjadi pengunjung utama.
“Sekarang bukan hanya Gen Z, bahkan Gen Alpha pun ikut nongkrong di tempat kopi. Ada anggapan bahwa dengan minum kopi, seseorang terlihat keren dan dianggap lebih dewasa,” kata Sabrina.
Ia menilai kopi kini menjadi bagian dari identitas sosial anak muda untuk mengikuti arus globalisasi.
Membangun Relasi dan Dampak Ekonomi
Lebih jauh, Sabrina menilai warkop memiliki peran penting dalam membangun relasi sosial yang mendukung aspek kehidupan lainnya, seperti pekerjaan dan pertemanan baru.
“Kadang tanpa sadar kita membangun relasi baru. Hanya karena duduk di tempat yang sama, memiliki selera kopi yang serupa, atau merasa satu frekuensi,” ungkapnya.
Dari sisi ekonomi, meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi membuka peluang usaha baru yang menjanjikan. Dengan asumsi penjualan 10 hingga 30 gelas per hari seharga Rp15 ribu, bisnis ini dinilai cukup potensial bagi warga.
Peran Pemerintah Daerah
Terkait peran pemerintah, Sabrina menilai Pemerintah Daerah Gorontalo cukup responsif dalam menangkap fenomena ini sebagai peluang ekonomi kreatif.
“Saya melihat pemerintah cukup terbuka. Ada kebijakan yang mengizinkan masyarakat berjualan di trotoar, seperti di Jalan Panjaitan dan HOS Cokroaminoto. Itu menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Fenomena warkop dan kopi jalanan di Gorontalo kini tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga menandai pergeseran cara warga berinteraksi, membangun relasi, dan merespons dinamika sosial yang berkembang.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)