Senin, 16 Maret 2026

Lipsus Kopi Gorontalo

Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo

Fenomena menjamurnya warung kopi (warkop) dan street coffee atau kopi jalanan di Gorontalo mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
BUDAYA KOPI -- Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabrina Nadia saat ditemui, Kamis (22/1/2026). Sabrina memberi komentar dampak sosial kopi jalanan di Gorontalo. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) 
Ringkasan Berita:
  • Kopi kini bukan sekadar minuman, melainkan telah bertransformasi menjadi media interaksi sosial utama dan ruang pertemuan untuk membahas berbagai topik
  • Budaya nongkrong di warkop kini didominasi oleh generasi muda (Gen Z dan Gen Alpha)
  • Fenomena ini menciptakan peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat serta membantu membangun jejaring sosial baru

 

TRIBUNGORONTO.COM – Fenomena menjamurnya warung kopi (warkop) dan street coffee atau kopi jalanan di Gorontalo mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.

Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Sabrina Nadia, menilai bahwa budaya kopi saat ini berperan penting dalam membentuk relasi sosial warga lintas generasi.

Menurut Sabrina, kopi sejatinya bukanlah hal baru dalam kehidupan masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fungsi kopi mengalami pergeseran signifikan; dari sekadar minuman menjadi media interaksi sosial yang utama.

“Jika kita berbicara tentang kopi, sebenarnya ini sudah terjadi sejak dulu. Kopi bukan hal baru. Namun, beberapa tahun terakhir, kopi justru digunakan sebagai sarana untuk berinteraksi lebih lanjut,” ujar Sabrina saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (22/1/2026).

Sabrina menjelaskan bahwa pergeseran tersebut terlihat dari kebiasaan masyarakat yang kini menjadikan warkop sebagai ruang pertemuan utama. Pertemuan yang sebelumnya dilakukan di rumah atau tempat lain, kini lebih sering diarahkan ke kedai kopi.

“Sekarang jika ingin bertemu orang, sering kali tercetus kalimat, ‘kita ketemu di tempat kopi saja’. Artinya, kopi tidak lagi sekadar minuman, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang sosial,” katanya.

Sabrina mengamati bahwa perubahan fungsi warkop juga tercermin dari topik pembicaraan yang berkembang di dalamnya. Jika sebelumnya obrolan didominasi hal-hal ringan, kini diskusi yang muncul jauh lebih kompleks, mulai dari urusan pekerjaan hingga politik.

“Dulu mungkin hanya obrolan santai untuk hiburan. Namun, beberapa bulan belakangan, justru banyak pembahasan yang cukup berat, mulai dari pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga isu politik dan hal-hal yang sedang viral,” jelasnya.

Ia menyebut fenomena ini semakin menguat dalam beberapa bulan terakhir. Street coffee menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk bertukar pandangan dan membahas situasi terkini.

“Banyak yang membahas bagaimana pemerintah menanggapi masalah yang ada, bagaimana kebijakan dijalankan, dan dampaknya bagi masyarakat. Jadi, aktivitas nongkrong bukan lagi sekadar menghabiskan waktu,” ujarnya.

Baca juga: Dosen Teknik Geologi UNG Muh Kasim Ungkap Alasan Gorontalo Kaya Mineral Emas dan Tembaga

Budaya Kopi dalam Keseharian Warga

UMKM -- Sreet Coffe di Kota Gorontalo, Kamis (22/1/2026). Ratusan lapak padati Pasar Sentral dan Jl Pandjaitan (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)
UMKM -- Sreet Coffe di Kota Gorontalo, Kamis (22/1/2026). Ratusan lapak padati Pasar Sentral dan Jl Pandjaitan (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) 

Bagi Sabrina, minum kopi di Gorontalo adalah hal lumrah yang telah lama menjadi bagian dari keseharian. Ia melihat kopi hadir di hampir semua lapisan masyarakat, termasuk di lingkungan kerja.

“Minum kopi itu sesuatu yang sangat biasa. Saya melihat rekan-rekan kerja saya juga melakukan hal yang sama,” tuturnya.

Meski demikian, Sabrina menekankan bahwa pandangannya didasarkan pada pengamatan pribadi selama menetap di Gorontalo.

“Saya perlu menyampaikan bahwa saya bukan orang asli Gorontalo. Namun, dari pengamatan sekitar enam bulan terakhir, saya melihat bahwa melalui kopi semua hal bisa dibahas, mulai dari hal kecil hingga isu yang paling berat,” katanya.

Sabrina menegaskan bahwa menjamurnya warkop dan lapak kopi jalanan tidak hanya terjadi di Gorontalo, melainkan fenomena yang melanda berbagai daerah di Indonesia.

“Saya berasal dari Pulau Sumatera, dan hal yang sama terjadi di sana. Hampir di setiap jalan utama, khususnya di kota-kota besar, sudah banyak tempat nongkrong kopi,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa tahun lalu. Jika dulu sepanjang jalan lebih banyak ditemui rumah makan, kini justru didominasi oleh warkop dan street coffee. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kopi telah menjadi tren nasional.

Pergeseran Generasi dan Identitas Sosial

Salah satu perubahan menonjol adalah dominasi generasi muda di warkop. Jika dahulu kopi identik dengan orang tua, kini anak muda justru menjadi pengunjung utama.

“Sekarang bukan hanya Gen Z, bahkan Gen Alpha pun ikut nongkrong di tempat kopi. Ada anggapan bahwa dengan minum kopi, seseorang terlihat keren dan dianggap lebih dewasa,” kata Sabrina.

Ia menilai kopi kini menjadi bagian dari identitas sosial anak muda untuk mengikuti arus globalisasi.

Membangun Relasi dan Dampak Ekonomi
Lebih jauh, Sabrina menilai warkop memiliki peran penting dalam membangun relasi sosial yang mendukung aspek kehidupan lainnya, seperti pekerjaan dan pertemanan baru.

“Kadang tanpa sadar kita membangun relasi baru. Hanya karena duduk di tempat yang sama, memiliki selera kopi yang serupa, atau merasa satu frekuensi,” ungkapnya.

Dari sisi ekonomi, meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi membuka peluang usaha baru yang menjanjikan. Dengan asumsi penjualan 10 hingga 30 gelas per hari seharga Rp15 ribu, bisnis ini dinilai cukup potensial bagi warga.

Peran Pemerintah Daerah

Terkait peran pemerintah, Sabrina menilai Pemerintah Daerah Gorontalo cukup responsif dalam menangkap fenomena ini sebagai peluang ekonomi kreatif.

“Saya melihat pemerintah cukup terbuka. Ada kebijakan yang mengizinkan masyarakat berjualan di trotoar, seperti di Jalan Panjaitan dan HOS Cokroaminoto. Itu menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap penguatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Fenomena warkop dan kopi jalanan di Gorontalo kini tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga menandai pergeseran cara warga berinteraksi, membangun relasi, dan merespons dinamika sosial yang berkembang. 

 

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 16 Maret 2026 (26 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:03
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved