Lipsus Kopi Gorontalo
Terungkap Alasan Mahasiswa Gorontalo Kini Lebih Sering Nongki di Street Coffee
Lapak kopi pinggir jalan atau street coffee kini menjadi pemandangan yang semakin akrab di Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/STREET-COFFEE-Dua-pengunjung-lapak-street-coffe-Panjaitan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Lapak kopi pinggir jalan atau street coffee kini menjadi pemandangan yang semakin akrab di Kota Gorontalo.
Saat malam tiba, kursi plastik berjajar di trotoar dan bahu jalan, dipenuhi anak muda, mahasiswa, hingga pekerja muda yang singgah untuk sekadar minum kopi dan berbincang.
Tak hanya itu beberapa sudut pasar, taman pun sudah banyak penjual kopi dengan berbagai nama dan desain tempat nongkrong.
Fenomena ini terlihat di sejumlah titik, mulai dari kawasan Jalan Panjaitan, Jalan Ex Andalas, Jalan Cokroaminoto hingga ramai dijadikan lokasi nongkrong.
Konsepnya sederhana, tanpa bangunan mewah atau dekorasi mahal, namun justru itu yang membuat banyak pengunjung merasa lebih nyaman.
Sebut saja Adelia Febriana (19), mahasiswi Poltekkes Gorontalo asal Toili, Sulawesi Tengah, mengaku cukup sering menghabiskan waktu di lapak kopi pinggir jalan.
Saat ditemui di street Coffe Panjaitan, ia mengatakan suasana menjadi alasan utama dirinya betah datang.
“Kalau nongkrong di street coffee itu lebih santai, tidak terlalu kaku seperti di kafe. Kita bisa duduk lama, ngobrol bebas, sambil lihat suasana jalan juga,” ujarnya, Senin malam (19/1/2026) ditemui di Street Coffe Opini Rasa, Panjaitan.
Menurut Adelia, rasa kopi memang penting, namun bukan satu-satunya faktor.
Dia menyebut kombinasi suasana terbuka dan harga yang terjangkau membuat street coffee terasa lebih ramah bagi mahasiswa.
“Kopinya juga lumayan enak, jadi bukan cuma suasananya saja. Tapi memang kalau untuk anak kuliah, harga yang murah itu sangat membantu,” katanya.
Dalam sepekan, Adelia bisa datang dua hingga tiga kali. Biasanya selepas salat Isya, bersama teman-temannya.
“Kalau malam itu biasanya lebih ramai dan seru, apalagi kalau datang sama teman. Jadi tidak terasa cepat pulang,” ucapnya.
Ia membandingkan dengan kafe atau pusat kuliner yang cenderung lebih padat dan berisik.
“Kalau di sini tidak terlalu ramai sekali, jadi lebih nyaman untuk ngobrol,” tambahnya.
| Sosiolog UNG Sabrina Nadia Sebut Budaya Kopi Ubah Pola Interaksi Warga Gorontalo |
|
|---|
| Street Coffee Kuasai Kota Gorontalo,Ratusan Lapak Padati Pasar Sentral dan Jalan Panjaitan |
|
|---|
| Kopi Jalanan Jadi Tren Anak Muda di Gorontalo, Syamsir Angkat Kopi Lokal |
|
|---|
| Kerap Sepi di Hari Normal, Pedagang Kopi di Pasar Sentral Gorontalo Punya Cara Balas Dendam |
|
|---|