Berita Internasional
Saudi Minta Amerika Segera Serang Iran, Sebut Penundaan Bikin Teheran Makin Berani
Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, memperingatkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-STOK-Menteri-Pertahanan-Arab-Saudi-Khalid-bin-Salman.jpg)
Ringkasan Berita:
- Menteri Pertahanan Arab Saudi memperingatkan bahwa kegagalan Trump menindaklanjuti ancamannya terhadap Iran dapat membuat Teheran semakin berani.
- Meski AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, Gedung Putih mengklaim masih membuka peluang diplomasi meski tanpa negosiasi konkret.
- Negara-negara Teluk khawatir eskalasi peringatan Trump justru membuat serangan terhadap Iran semakin sulit dihindari.
TRIBUNGORONTALO.COM - Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, memperingatkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berisiko memperkuat posisi rezim Iran apabila tidak menindaklanjuti ancaman militernya terhadap Teheran.
Empat sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada Axios bahwa sikap ragu-ragu AS dapat membuat Iran semakin berani.
Sebelumnya, Arab Saudi justru sempat memperingatkan agar ketegangan dengan Iran tidak ditingkatkan.
Sikap tersebut dilaporkan menjadi salah satu faktor yang membuat Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Pangeran Khalid bin Salman, yang merupakan adik kandung Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) sekaligus orang kepercayaannya, berada di Washington untuk membahas langkah yang harus diambil terhadap Iran, menurut laporan Axios.
Dalam rangkaian kunjungannya, pada Jumat waktu setempat, Pangeran Khalid bertemu dengan 15 pakar think tank Timur Tengah serta perwakilan dari lima organisasi Yahudi.
Baca juga: Jokowi Tetap Tempuh Jalur Hukum soal Ijazah Meski Buka Ruang Maaf
Pertemuan itu membahas eskalasi ketegangan regional dan kemungkinan respons terhadap Iran.
Di sisi lain, Iran telah memperingatkan bahwa setiap tindakan militer terhadap negaranya akan dibalas dengan respons yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Axios melaporkan bahwa pada Kamis, Pangeran Khalid, yang kerap disebut KBS, juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Utusan Gedung Putih Steve Witkoff, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Meski Trump telah memerintahkan pengerahan besar-besaran kekuatan militer AS di Timur Tengah, pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Axios bahwa keputusan final belum diambil.
Baca juga: KUR Mandiri 2026 Bunga 6 Persen: Panduan Lengkap Cicilan hingga Rp 500 Juta untuk UMKM
Mereka mengklaim masih terbuka untuk solusi diplomatik, meskipun hingga kini belum ada negosiasi yang benar-benar berlangsung.
“Iran selalu ingin membuat kesepakatan. Tapi masalahnya adalah, kesepakatan seperti apa yang ingin dibuat,” ujar seorang pejabat Teluk kepada Axios.
“Kesepakatan seperti apa yang diinginkan Iran dan kesepakatan apa yang bisa diterima Amerika Serikat? Itu pertanyaan besar, dan saat ini kami belum melihat titik temu," tambahnya.
Dalam percakapan terpisah, Putra Mahkota Mohammed bin Salman disebut telah menyampaikan kepada Presiden Iran bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran.
Baca juga: Kenapa Harga Emas Mahal? Ini 3 Faktor yang Mendorong Kenaikannya, Ternyata Ada yang Borong!
Sementara itu, negara-negara lain di kawasan seperti Qatar dan Oman dilaporkan tengah berupaya keras meredam Gedung Putih agar tidak melancarkan serangan terhadap Iran, sebagaimana dilaporkan Politico.
Namun, menurut tiga sumber yang mengetahui diskusi antara pemerintahan AS dan mitra Teluk, Gedung Putih belum memberikan jaminan konkret bahwa mereka akan mengikuti saran negara-negara kawasan.
Baca juga: KUR Mandiri 2026 Bunga 6 Persen: Panduan Lengkap Cicilan hingga Rp 500 Juta untuk UMKM
Sebaliknya, peringatan publik Trump yang semakin keras, ditambah dengan terus mengalirnya kapal perang dan aset udara AS ke kawasan Teluk, justru mempersempit pilihan presiden sendiri.
Kondisi ini memicu keyakinan yang kian menguat di kalangan pejabat regional bahwa suatu bentuk serangan terhadap Iran semakin sulit dihindari.
Pada Kamis, Trump mengatakan kepada CBS News bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan Iran dalam beberapa hari terakhir dan berencana melanjutkannya.
“Kami memiliki kapal-kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang sedang berlayar menuju Iran sekarang. Akan sangat baik jika kami tidak perlu menggunakannya,” ujar Trump.
Trump juga mengungkapkan dua pesan utama yang ia sampaikan kepada Iran.
“Pertama, tidak ada nuklir. Kedua, hentikan pembunuhan terhadap para demonstran,” katanya.
Pada Jumat, Trump kembali mengatakan kepada wartawan bahwa Iran ingin “membuat kesepakatan”.
“Mudah-mudahan kami bisa membuat kesepakatan. Jika kami membuat kesepakatan, itu bagus. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” pungkasnya.
(*)
Iran
Amerika Serikat
Saudi Arabia
Berita Internasional
Pangeran Khalid bin Salman
Menteri Pertahanan Arab Saudi
| Putusan Mahkamah Agung Gagalkan Tarif Darurat, Trump Balas dengan Skema 10 Persen |
|
|---|
| Mantan Presiden Korea Selatan Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup atas Upaya Kudeta |
|
|---|
| Lovers Arch Ambruk, Ikon Romantis Italia Tinggal Kenangan Diterjang Cuaca Ekstrem |
|
|---|
| Intelijen Korea Selatan Sebut Kim Jong Un Siapkan Putrinya Jadi Pewaris Kepemimpinan Korea Utara |
|
|---|
| WhatsApp Diblokir Total di Rusia, Kremlin Dorong Warga Gunakan Aplikasi Pesan Nasional |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.