Berita Nasional

Kenapa Harga Emas Mahal? Ini 3 Faktor yang Mendorong Kenaikannya, Ternyata Ada yang Borong!

Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dalam beberapa pekan terakhir.

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
EMAS -- Harga emas dunia melonjak tajam dan sempat mencetak rekor baru. Ketidakpastian global, tekanan dolar AS, dan aksi beli besar-besaran jadi pemicunya. 

Ringkasan Berita:
  • Harga emas menembus rekor USD 5.000 per ons seiring melonjaknya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian politik global.
  • Kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, konflik geopolitik, serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral menjadi pendorong utama reli logam mulia.
  • Meski sempat terkoreksi akibat sinyal stabilitas politik AS, harga emas dan perak masih jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dalam beberapa pekan terakhir.

Logam mulia ini sempat menembus level setara Rp2,56 juta per gram dan bahkan menyentuh kisaran Rp2,83 juta per gram, sebelum akhirnya terkoreksi tajam.

Meski mengalami penurunan, harga emas masih bertahan jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan harga emas tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor global yang membuat investor berbondong-bondong memindahkan dananya ke aset lindung nilai.

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Laut Gorontalo, Gelombang Capai 1,25 Meter hingga 3 Februari

Dalam situasi penuh ketidakpastian, emas kembali menjadi pilihan utama. Berikut tiga faktor utama yang membuat harga emas meroket tajam.

1. Ketidakpastian Politik dan Geopolitik Global

Situasi geopolitik dunia yang kian tidak menentu menjadi pendorong terbesar kenaikan harga emas.

Perang yang masih berlangsung di Ukraina dan Gaza, ketegangan di Timur Tengah, serta meningkatnya konflik kepentingan antarnegara besar menciptakan tekanan serius bagi pasar keuangan global.

Kondisi ini diperparah oleh dinamika politik di Amerika Serikat. Kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang kerap berubah-ubah, ancaman tarif perdagangan, serta konflik diplomatik dengan sejumlah negara membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko.

Dalam situasi seperti ini, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai aset aman (safe haven).

2. Tekanan terhadap Dolar AS dan Kebijakan Ekonomi Amerika

Faktor kedua datang dari melemahnya kepercayaan terhadap dolar AS.

Kebijakan tarif agresif Presiden Trump, ketidakpastian fiskal, serta kekhawatiran akan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) membuat investor mencari alternatif lindung nilai.

Emas kerap menjadi pilihan ketika dolar melemah atau terancam tertekan oleh inflasi.

Spekulasi bahwa Trump akan menunjuk pimpinan The Fed yang lebih lunak terhadap tekanan politik untuk menurunkan suku bunga sempat memicu lonjakan harga emas.

Penurunan suku bunga dinilai berpotensi melemahkan dolar dan mendorong inflasi, kondisi yang biasanya menguntungkan emas.

3. Pembelian Besar-Besaran oleh Bank Sentral dan Investor Global

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 27 Februari 2026 (9 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:32
Subuh 04:42
Zhuhr 12:04
‘Ashr 15:17
Maghrib 18:07
‘Isya’ 19:15

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved