Berita Internasional
Trump Ingin Terlibat Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Ali Khamenei
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ingin terlibat dalam proses penunjukan pemimpin tertinggi baru Iran setelah tewasnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANGIRAN-Donald-Trump-Tolak-Mojtaba-Khamenei-Ingin.jpg)
Ringkasan Berita:
- Donald Trump menyatakan ingin terlibat dalam proses penunjukan pemimpin baru Iran setelah tewasnya Ali Khamenei.
- Ia menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya dan menyebutnya sosok yang lemah.
- Di tengah konflik yang meluas, aktivis Iran memperingatkan risiko siklus kekerasan dan campur tangan asing dalam masa depan negara tersebut.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ingin terlibat dalam proses penunjukan pemimpin tertinggi baru Iran setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dalam wawancara dengan Axios pada Kamis, Trump secara terbuka menolak kemungkinan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, menggantikan posisi ayahnya.
“Mereka membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu sosok yang lemah. Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti yang terjadi dengan Delcy di Venezuela,” ujar Trump.
Baca juga: Baru Saja Terjadi Gempa Bumi Jumat Dini Hari 06 Maret 2026, Ini Fakta Lokasi dan Kedalamannya
Ia merujuk pada tokoh politik Venezuela, Delcy Rodríguez, yang menurutnya didukung Washington setelah penangkapan mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Trump juga memperingatkan bahwa jika penerus Khamenei tetap melanjutkan kebijakan politik ayahnya, konflik dengan Barat berpotensi kembali terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Proses Konstitusi Iran
Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi negara dipilih oleh Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan menentukan suksesi kepemimpinan.
Sementara proses tersebut berlangsung, kepemimpinan negara biasanya dijalankan oleh dewan sementara hingga pemimpin baru resmi ditetapkan.
Hingga kini pemerintah Iran belum mengumumkan pengganti resmi Khamenei setelah serangan militer yang dilaporkan melibatkan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tersebut bersama puluhan pejabat tinggi Iran.
Nama Mojtaba Khamenei selama ini sering disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus ayahnya, meskipun ia tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan.
Baca juga: Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran
Mojtaba sebelumnya juga pernah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat pada 2019 dan disebut memiliki hubungan dengan pasukan Basij yang terlibat dalam penindasan demonstrasi pasca pemilu Iran 2009.
Kekhawatiran Aktivis Iran
Di tengah meningkatnya konflik di kawasan, aktivis politik dan hak asasi manusia Iran, Mehdi Mahmoudian, menyatakan kekhawatirannya terhadap masa depan Iran.
Mahmoudian baru saja dibebaskan dari penjara setelah sebelumnya ditahan karena menandatangani surat terbuka yang menyalahkan Khamenei atas kematian ribuan demonstran anti-pemerintah.
Dalam wawancara dengan NPR dari Teheran, Mahmoudian mengatakan ia memiliki dua perasaan saat mendengar kabar kematian Khamenei.
Ia mengaku merasa lega karena seorang diktator telah meninggal, namun juga sedih karena menurutnya Khamenei seharusnya diadili di pengadilan agar kejahatan masa lalu dapat dipertanggungjawabkan.