Selasa, 10 Maret 2026

LIPSUS GENTENG

Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo

gagasan gentengisasi yang diperkenalkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat respons dari kalangan arsitek di Gorontalo.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
Ketua IAI Gorontalo, Yohanes P. Erick saat membuka acara peresmian kantor Sekretariat IAI Gorontalo, Minggu (2/7/2023). 

“Banyak rumah dibangun dengan rangka sederhana yang lebih siap menerima material ringan, sementara seng relatif mudah diangkut, cepat dipasang, dan tersedia luas di toko bangunan lokal,” katanya.

Selain itu, faktor biaya awal menjadi pertimbangan penting bagi banyak keluarga. Seng dinilai lebih terjangkau dalam pembelian dan pemasangan, sehingga cocok untuk pembangunan bertahap maupun renovasi rumah secara mandiri.

Dari sisi waktu pengerjaan, pemasangan seng yang relatif cepat juga membantu masyarakat menyelesaikan pembangunan atap, terutama saat musim hujan atau setelah terjadi cuaca ekstrem.

Ia juga menilai keterampilan tenaga kerja lokal menjadi faktor pendukung dominasi seng. Tukang bangunan di daerah umumnya lebih terbiasa dengan sistem pemasangan seng, sehingga kualitas pengerjaan lebih terjamin.

“Di wilayah Indonesia Timur yang banyak memiliki kawasan pesisir dan akses distribusi yang tidak selalu mudah, material ringan seperti seng menjadi lebih adaptif terhadap tantangan logistik,” tambahnya.

Biaya pengangkutan yang lebih rendah serta risiko kerusakan selama distribusi juga menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan material yang lebih berat dan mudah pecah.

Catatan untuk Pelaksanaan Program

Erick menyampaikan sejumlah catatan agar program gentengisasi dapat berjalan selaras dengan budaya, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Pertama, program perlu menyesuaikan kondisi struktur rumah, karena setiap bangunan memiliki kemampuan berbeda dalam menopang material atap.

Kedua, penting memperhatikan kebiasaan dan penerimaan masyarakat melalui dialog agar program dapat diterima dan dirawat dalam jangka panjang.

Ketiga, program perlu berfokus pada kenyamanan hunian, bukan sekadar jenis material. Ventilasi atap, lapisan peredam panas, dan kualitas pemasangan harus menjadi bagian dari paket pembangunan.

Keempat, pelaksanaan program perlu melibatkan pelaku usaha dan tenaga kerja lokal agar manfaatnya juga dirasakan pada perputaran ekonomi daerah.

Kelima, aspek dampak lingkungan dan distribusi material juga perlu dipertimbangkan agar manfaat program tidak berkurang akibat biaya dan emisi transportasi.

Secara arsitektural, Erick menilai pendekatan paling berkelanjutan adalah menetapkan standar kinerja minimum atap layak huni, bukan memaksakan satu jenis material tertentu.

“Dengan pendekatan ini, Gorontalo dapat mengadopsi genteng tanah liat di lokasi yang siap secara teknis dan sosial, sekaligus mempertahankan sistem atap seng yang dilengkapi peredam panas dan ventilasi sebagai alternatif setara secara kinerja,” tandasnya.

Ia berharap program gentengisasi dapat berkembang menjadi upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat, sekaligus mendorong ekonomi lokal dan menjaga keselarasan dengan lingkungan serta nilai-nilai budaya setempat. (*/Jefri)

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Selasa, 10 Maret 2026 (20 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:09
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved