LIPSUS GENTENG
Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka
Wacana penggunaan genteng sebagai atap rumah kembali mengemuka setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
Ringkasan Berita:
- Wacana program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto mendapat respons beragam dari warga Gorontalo.
- Selain dinilai lebih nyaman, penggunaan genteng masih terkendala faktor kebiasaan, kondisi alam, serta kemampuan ekonomi masyarakat.
- Warga berharap kebijakan perumahan tetap mempertimbangkan kearifan lokal dan kondisi daerah.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Wacana penggunaan genteng sebagai atap rumah kembali mengemuka setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong rumah-rumah di Indonesia secara bertahap beralih dari seng ke genteng.
Program yang belakangan dikenal dengan istilah gentengisasi tersebut dinilai mampu meningkatkan kenyamanan hunian, menekan panas di dalam rumah, serta memperbaiki kualitas lingkungan permukiman.
Namun di Gorontalo, respons warga terhadap wacana tersebut tidak seragam.
Pilihan material atap rumah masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari iklim, kondisi tanah, kemampuan ekonomi, hingga kebiasaan dan kultur yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Baca juga: Kadis PUPR-PKP Ungkap Tantangan Penggunaan Genteng di Gorontalo, Ulas Sejarah hingga Kearifan Lokal
Pandangan tersebut disampaikan tiga warga Gorontalo saat diwawancarai pada Rabu (4/2/2026).
Sebagai daerah yang berada di garis khatulistiwa, Gorontalo memiliki karakter iklim panas dan lembap hampir sepanjang tahun.
Dalam kondisi tersebut, genteng kerap dianggap lebih ideal karena mampu meredam panas dan mengurangi suara bising saat hujan turun.
Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa atap seng masih menjadi material paling dominan digunakan masyarakat.
Secara umum, penggunaan genteng di Gorontalo belum menjadi kebiasaan utama, sebagaimana juga terjadi di banyak wilayah Indonesia bagian timur.
Sejak lama, rumah-rumah di Gorontalo dibangun dengan menyesuaikan kondisi lingkungan serta ketersediaan material.
Seng menjadi pilihan karena lebih ringan, mudah dipasang, dan tidak memerlukan rangka bangunan yang terlalu kuat.
Salah satu warga yang mengaku tidak tertarik menggunakan genteng adalah Dian Akuba, warga Tanggi Da’a, Kecamatan Kota Utara.
Ia menuturkan bahwa pilihan atap rumah di keluarganya telah berlangsung lama dan diwariskan secara turun-temurun.
“Dari dulu, dari orang tua sampai sekarang, rumah kami memang tidak pernah pakai genteng. Itu sudah jadi kebiasaan keluarga,” ujar Dian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ATAP-Masyarakat-Gorontalo-rupanya-banyak.jpg)