LIPSUS GENTENG
Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo
gagasan gentengisasi yang diperkenalkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat respons dari kalangan arsitek di Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/272023_Ketua-IAI-Gorontalo-Yohanes-P-Erick.jpg)
Ia menilai baik genteng maupun seng dapat diterima selama selaras dengan lingkungan permukiman dan memenuhi kebutuhan penghuni.
Seiring perkembangan zaman, pemilihan material juga semakin dipengaruhi oleh ketersediaan di pasar, kemampuan ekonomi keluarga, serta kemudahan pemasangan.
“Di Gorontalo, pilihan atap berkembang secara adaptif dan praktis, dengan tetap menghormati nilai-nilai lokal yang tercermin pada proporsi atap, detail, warna, dan ritme arsitektur,” paparnya.
Iklim, Lingkungan, dan Karakter Permukiman
Menurut Erick, kondisi Gorontalo yang panas, lembap, dan sering diguyur hujan menempatkan atap sebagai elemen kunci dalam menjaga kualitas hidup di dalam rumah.
“Yang paling menentukan bukan semata pilihan antara genteng atau seng, melainkan bagaimana sistem atap dirancang dan dipasang secara benar,” tegasnya.
Ia menjelaskan, genteng tanah liat cenderung lebih sejuk dan lebih senyap saat hujan karena massanya mampu menahan panas sekaligus meredam suara.
Dengan ventilasi loteng yang baik dan struktur rangka yang memadai, genteng dinilai mampu memberikan kenyamanan harian yang stabil serta memiliki umur pakai yang panjang.
Selain itu, secara visual genteng sering dianggap lebih menyatu dengan lingkungan permukiman.
Jika pasokannya tersedia dari wilayah sekitar, genteng juga berpotensi mendorong aktivitas ekonomi pengrajin, toko bangunan, dan jasa tukang.
Sementara itu, seng dinilai memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan. Material ini ringan, mudah didapat di pasar lokal, serta cepat dipasang sehingga cocok untuk rumah dengan struktur sederhana, renovasi cepat, maupun perbaikan pascabencana.
Dari sisi biaya awal, seng juga relatif lebih terjangkau bagi banyak keluarga.
Dengan tambahan lapisan peredam panas, cat reflektif, dan ventilasi atap, sistem atap seng dinilai tetap dapat dirancang agar nyaman dan tahan lama.
“Pada akhirnya, genteng unggul dari sisi kenyamanan dan tampilan, sementara seng unggul dari sisi kepraktisan dan keterjangkauan.
Keduanya dapat sama-sama sesuai untuk Gorontalo jika diperlakukan sebagai bagian dari sistem atap yang utuh,” ujarnya.
Dominasi Seng di Gorontalo dan Indonesia Timur
Erick menilai tingginya penggunaan atap seng di Gorontalo dan wilayah Indonesia Timur dipengaruhi kombinasi faktor ketersediaan, logistik, serta karakter struktur rumah masyarakat.
| Tokoh Adat Gorontalo Sebut Penggunaan Atap Genteng tak Sesuai Kebiasaan Lokal |
|
|---|
| Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat |
|
|---|
| Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka |
|
|---|
| Kadis PUPR-PKP Ungkap Tantangan Penggunaan Genteng di Gorontalo, Ulas Sejarah hingga Kearifan Lokal |
|
|---|