LIPSUS GENTENG
Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat
Rencana nasional program “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memantik beragam respons di daerah, termasuk di Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
Ringkasan Berita:
- Program nasional gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto memunculkan beragam respons di Gorontalo, termasuk mengingatkan kembali sejarah penggunaan atap rumah tradisional.
- Tokoh Adat Bate Lo Hulontalo, Ishak Bumulo, menjelaskan bahwa masyarakat Gorontalo dulunya menggunakan rumbia dan daun kelapa karena lebih sejuk dan murah.
- Ia menilai program gentengisasi memiliki tujuan baik, namun harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat dan kesiapan konstruksi bangunan.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rencana nasional program “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memantik beragam respons di daerah, termasuk di Gorontalo.
Selain menimbulkan berbagai pertimbangan teknis dan ekonomi, wacana tersebut juga memunculkan kembali cerita-cerita lama di tengah masyarakat.
Salah satunya lelucon yang menyebut tinggal di bawah atap genteng seperti berada di dalam kubur.
Tokoh Adat Bate Lo Hulontalo, Ishak Bumulo, menuturkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki sejarah panjang dalam penggunaan material atap rumah.
Baca juga: Ternyata Ada Jejak Historis! Pantas Ismet Mile jadi Ketua PPP Gorontalo Meski Tak Masuk Rekomendasi
Dalam wawancara pada Selasa (4/2/2026), Ishak menjelaskan bahwa pada masa lalu masyarakat Gorontalo tidak menggunakan atap seng, apalagi genteng.
Material yang lazim digunakan justru berasal dari alam, yakni rumbia yang diambil dari pohon enau atau aren.
Menurutnya, pemilihan rumbia bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, rumbia mampu menciptakan suasana rumah yang lebih sejuk dan nyaman.
“Mengapa mereka memakai itu, karena di dalam rumah dingin, tidak panas,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada masa itu rumbia mudah diperoleh dan dijual dengan harga terjangkau.
Jika daun rumbia sulit ditemukan, masyarakat memanfaatkan daun kelapa yang dianyam sebagai alternatif penutup atap.
Perubahan mulai terlihat sekitar tahun 1957. Saat itu sebagian kecil masyarakat mulai beralih menggunakan atap seng karena dinilai lebih rapi dan modern.
Namun, penggunaan seng hanya dapat dijangkau oleh kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Ishak menegaskan, pada masa tersebut belum ada masyarakat Gorontalo yang menggunakan genteng sebagai atap rumah.
“Saat itu ekonomi Gorontalo masih di bawah. Orang mengambil sesuatu yang mudah dan murah harganya,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/GENTENG-Program-gentengisasi-yang-digaungkan-Presiden-Prabowo-Subianto.jpg)