Jumat, 6 Maret 2026

LIPSUS GENTENG

Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat

 Rencana nasional program “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memantik beragam respons di daerah, termasuk di Gorontalo.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat
TribunGorontalo.com
GENTENG -- Program gentengisasi yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memicu diskusi di Gorontalo, termasuk mengingatkan kembali sejarah penggunaan atap tradisional seperti rumbia dan daun kelapa. Tokoh adat menilai program tersebut memiliki tujuan baik, namun perlu menyesuaikan kemampuan ekonomi masyarakat dan kesiapan konstruksi rumah. 

Ia juga meyakini program pemerintah memiliki tujuan positif bagi masyarakat.

“Program dari pemerintah juga baik. Barangkali kalau ada subsidi dari pemerintah, masyarakat akan mendukung program tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan gagasan gentengisasi sebagai gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan dari seng menjadi genteng.

Presiden menyebut kebijakan tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian, memperindah lingkungan permukiman, serta memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

“Salah satu dalam rangka memperindah. Saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita sekarang terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.

Ia menilai dominasi atap seng membuat kawasan permukiman kehilangan nilai estetika. Presiden bahkan menegaskan bahwa wajah Indonesia sulit terlihat indah jika atap rumah masih didominasi seng.

“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya.

Dalam konsep gentengisasi, Prabowo mendorong penggunaan genteng sebagai material utama atap bangunan di seluruh Indonesia.

Program tersebut dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, serta berbagai pihak terkait.

Presiden menilai industri genteng relatif mudah dikembangkan karena tidak memerlukan investasi peralatan yang mahal.

“Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.

Selain itu, genteng berbasis tanah dinilai dapat dikombinasikan dengan material limbah agar lebih ringan dan kuat.

Prabowo menyebut limbah batu bara sebagai salah satu bahan tambahan potensial.

Di sisi lain, gentengisasi juga dikaitkan dengan nilai tradisi serta kenyamanan hunian.

Presiden menilai rumah-rumah tradisional Indonesia menggunakan material alami yang lebih sejuk dibanding seng.

“Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, dulu pakai rumbia, ijuk, sirap, atau bahan dari alam, jadi sejuk,” kata Prabowo.

Ia juga mencontohkan kampung halaman ibunya di Minahasa yang dahulu menggunakan atap rumbia sebagai penutup rumah. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 06 Maret 2026 (16 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:03
‘Ashr 15:12
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:14

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved