LIPSUS GENTENG
Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat
Rencana nasional program “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memantik beragam respons di daerah, termasuk di Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/GENTENG-Program-gentengisasi-yang-digaungkan-Presiden-Prabowo-Subianto.jpg)
Ia juga meyakini program pemerintah memiliki tujuan positif bagi masyarakat.
“Program dari pemerintah juga baik. Barangkali kalau ada subsidi dari pemerintah, masyarakat akan mendukung program tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan gagasan gentengisasi sebagai gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan dari seng menjadi genteng.
Presiden menyebut kebijakan tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian, memperindah lingkungan permukiman, serta memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
“Salah satu dalam rangka memperindah. Saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita sekarang terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.
Ia menilai dominasi atap seng membuat kawasan permukiman kehilangan nilai estetika. Presiden bahkan menegaskan bahwa wajah Indonesia sulit terlihat indah jika atap rumah masih didominasi seng.
“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya.
Dalam konsep gentengisasi, Prabowo mendorong penggunaan genteng sebagai material utama atap bangunan di seluruh Indonesia.
Program tersebut dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, serta berbagai pihak terkait.
Presiden menilai industri genteng relatif mudah dikembangkan karena tidak memerlukan investasi peralatan yang mahal.
“Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.
Selain itu, genteng berbasis tanah dinilai dapat dikombinasikan dengan material limbah agar lebih ringan dan kuat.
Prabowo menyebut limbah batu bara sebagai salah satu bahan tambahan potensial.
Di sisi lain, gentengisasi juga dikaitkan dengan nilai tradisi serta kenyamanan hunian.
Presiden menilai rumah-rumah tradisional Indonesia menggunakan material alami yang lebih sejuk dibanding seng.
“Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, dulu pakai rumbia, ijuk, sirap, atau bahan dari alam, jadi sejuk,” kata Prabowo.
Ia juga mencontohkan kampung halaman ibunya di Minahasa yang dahulu menggunakan atap rumbia sebagai penutup rumah. (*)