Ramadan 2026
Kadir Gani dan Hatim Mohammad, Sosok Pasutri Penjual Takjil di Kota Gorontalo
Di balik riuhnya suasana berburu takjil di pertigaan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Nani Wartabone, terselip sebuah kisah ketekunan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Pasutri asal Heledulaa Utara ini konsisten berjualan takjil setiap sore selama Ramadan, menawarkan kue tradisional seperti onde-onde, risoles, dan lemper dengan harga terjangkau
- Meski hujan mengguyur, mereka tetap berjualan dengan menutup kue menggunakan plastik dan mengenakan jas hujan
- Bagi Kadir dan Hatim, berdagang adalah napas kehidupan. Mereka tidak menargetkan keuntungan besar, cukup dagangan habis dan bisa membawa pulang rezeki halal untuk keluarga
TRIBUNGORONTALO.COM – Di balik riuhnya suasana berburu takjil di pertigaan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Nani Wartabone, terselip sebuah kisah ketekunan dari sepasang suami istri, Kadir Gani (55) dan Hatim Mohammad (52).
Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan panggung perjuangan untuk merajut ekonomi keluarga melalui deretan kue tradisional.
Setiap sore, tepatnya mulai pukul 15.00 Wita, pasutri asal Kelurahan Heledulaa Utara ini sudah bersiap di lapak sederhana mereka yang terletak di depan gerbang Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Pemandangan yang tersaji pun selalu hangat: Kadir dengan cekatan memasukkan pesanan ke plastik, sementara Hatim dengan telaten menata aneka kue di atas meja kayu.
"Mulai jam tiga sore sampai jam enam. Jualan sama istri," ujar Kadir saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (25/2/2026).
Lapak mereka mungkin hanya beratap payung warna-warni, namun variasi menu yang ditawarkan cukup menggugah selera, di antaranya Onde-onde, kue perahu, dan bolu. Ada pula camilan lemper dan risoles.
Harga kue dijual mulai dari Rp5.000 untuk 3 hingga 4 picis.
Baca juga: Bupati Gorontalo Buka Akses 10 Ribu Lowongan Kerja ke Korea Selatan
Tak Surut Meski Diguyur Hujan
Kesetiaan mereka dalam berjualan diuji oleh cuaca. Meski hujan sering mengguyur Kota Gorontalo belakangan ini, Kadir dan Hatim tak lantas mengemas dagangan.
Dengan sigap, mereka menutupi kue-kue dengan plastik agar tetap higienis. Bahkan, Hatim rela mengenakan jas hujan demi tetap bisa melayani mahasiswa dan warga yang melintas.
"Setiap hari jualan, apalagi kalau Ramadan, tiap tahun kami pasti ada," tambah Kadir penuh semangat.
Bagi pasangan ini, berdagang adalah napas kehidupan. Di luar bulan suci Ramadan, mereka tidak lantas berhenti. Jika saat Ramadan mereka menetap di depan kampus UNG, di hari-hari biasa Hatim akan berkeliling menjajakan dagangannya hingga ke area kos-kosan mahasiswa.
Meski lokasi jualan mereka sempat berpindah dari depan Masjid Sabilurrasyad karena adanya penataan ulang, hal tersebut tidak mematahkan semangat mereka. Bagi Kadir, yang terpenting adalah konsistensi dan kejujuran dalam bekerja.
Di tengah menjamurnya pedagang takjil musiman, Kadir dan Hatim memilih bertahan dengan cara mereka sendiri: keramahan dan harga yang jujur. Mereka tidak mematok target keuntungan yang muluk-muluk.
"Alhamdulillah, yang penting cukup untuk keluarga. Kami tidak harus dapat berapa (jumlah besar)," tutup Kadir dengan senyum merekah.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)