LIPSUS GENTENG
Tokoh Adat Gorontalo Sebut Penggunaan Atap Genteng tak Sesuai Kebiasaan Lokal
Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genteng secara nasional memicu tanggapan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/GENTENG-Tokoh-adat-Gorontalo-Alim-S-Niode.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tokoh adat Gorontalo Alim S. Niode menilai wacana penggunaan atap genteng secara nasional perlu mempertimbangkan tradisi dan kebiasaan masyarakat lokal.
- Ia menyebut masyarakat Gorontalo sejak dahulu menggunakan atap berbahan daun dan kemudian beralih ke seng karena faktor ketersediaan serta kepraktisan.
- Menurutnya, kebijakan pembangunan hunian sebaiknya tetap memberi ruang bagi keberagaman arsitektur dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genteng secara nasional memicu tanggapan dari kalangan tokoh adat di Gorontalo.
Selain menyoroti aspek kenyamanan hunian, wacana tersebut dinilai perlu mempertimbangkan sejarah budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
Tokoh adat Gorontalo, Alim S Niode, menilai pola pembangunan hunian yang bersifat seragam berpotensi tidak selaras dengan praktik arsitektur tradisional masyarakat Gorontalo yang telah berlangsung lama.
“Secara kultural, masyarakat Gorontalo tidak terbiasa dengan atap genteng. Dari awal, atap rumah dan bangunan terbuat dari daun, baik daun nipah maupun daun kelapa,” ujar Alim saat diwawancarai, Jumat (6/2/2026).
Baca juga: Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo
Menurutnya, penggunaan bahan atap dalam tradisi Gorontalo sejak dulu lebih menyesuaikan dengan ketersediaan material alam di sekitar permukiman.
Seiring waktu, masyarakat memang mengalami perubahan dengan beralih dari atap daun ke bahan yang lebih modern.
“Belakangan masyarakat menggunakan seng. Memang ada juga variasi lain seperti asbes dan genteng, tetapi masyarakat Gorontalo lebih memilih seng karena praktis,” jelasnya.
Alim menilai perubahan material secara menyeluruh bukan hanya soal selera arsitektur, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan teknis dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Ia menyebut pergantian jenis atap berpotensi menambah beban, terutama bagi warga yang sudah terbiasa menggunakan material tertentu.
“Pergantian ini merepotkan masyarakat. Dari sisi teknis, dari sisi biaya dan anggaran, serta karena masyarakat sudah terbiasa dengan bahan yang selama ini digunakan,” katanya.
Selain itu, Alim mengungkapkan adanya pandangan simbolik yang berkembang di sebagian masyarakat terkait penggunaan genteng yang berbahan tanah.
Baca juga: Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka
Dalam pemahaman lama, tanah memiliki makna yang identik dengan posisi di bagian bawah.
“Masyarakat Gorontalo berpendapat tanah itu posisinya di bawah, bagian dari bumi. Kalau tanah dijadikan atap dan diletakkan di atas, itu bukan tradisi atau kebiasaan di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, persepsi tersebut bahkan sering dikaitkan dengan gambaran simbolik tertentu dalam kehidupan masyarakat.