LIPSUS GENTENG
Tokoh Adat Gorontalo Sebut Penggunaan Atap Genteng tak Sesuai Kebiasaan Lokal
Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genteng secara nasional memicu tanggapan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/GENTENG-Tokoh-adat-Gorontalo-Alim-S-Niode.jpg)
“Ada pandangan bahwa rumah yang ditutup tanah di atas itu seperti kuburan yang ditimpa tanah,” katanya.
Meski demikian, Alim menegaskan pandangan tersebut tidak berlaku bagi seluruh masyarakat.
Ia menyebut hal itu lebih merupakan kebiasaan lama yang masih bertahan pada sebagian kelompok masyarakat.
“Tidak semua berpandangan seperti itu. Mungkin hanya sebagian atau sebagian kecil, tetapi itu kebiasaan lama yang masih melekat,” ungkapnya.
Menurut Alim, tradisi pemilihan bahan bangunan dalam budaya Gorontalo selama ini tidak dituangkan dalam aturan adat tertulis, melainkan terbentuk melalui praktik turun-temurun yang mengatur penggunaan material sesuai fungsi dan posisinya.
“Aturan itu tidak tertulis. Ia berdasarkan kebiasaan penggunaan bahan. Ada jenis kayu tertentu untuk bagian atas, jenis kayu tertentu untuk bagian bawah, termasuk pemilihan bambu dan bahan lainnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, masyarakat Gorontalo sejak dahulu memahami jenis bahan atap yang lazim digunakan serta makna yang menyertainya dalam konstruksi rumah tradisional.
“Pilihan genteng itu tidak dikenal di sini. Secara turun-temurun kita tahu bahan atap apa yang digunakan dan apa maknanya,” katanya.
Alim juga menekankan bahwa penggunaan atap daun pada masa lalu bukan semata persoalan filosofi, melainkan karena faktor ketersediaan bahan di lingkungan sekitar.
“Itu bukan tafsir adat yang rumit. Hanya kebiasaan, karena bahan itu mudah tersedia di alam, lalu dijadikan atap,” ujarnya.
Di tengah perkembangan zaman, Alim menyatakan masyarakat tetap perlu diberi ruang untuk menentukan pilihan arsitektur rumah masing-masing.
Ia menilai keberagaman bentuk hunian justru menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.
Baca juga: Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo
“Saya lebih memilih membiarkan masyarakat membangun dan menentukan arsitektur rumah mereka sendiri. Tidak perlu diseragamkan, karena itu selera masing-masing,” tuturnya.
“Secara kultural, keragaman itu memperkaya hasil kebudayaan,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan wacana penggunaan atap genteng sebagai bagian dari penataan hunian rakyat.
Pemerintah menilai material tersebut dapat meningkatkan kenyamanan, kesehatan lingkungan rumah, serta mendukung tampilan permukiman yang lebih tertata.
Namun di sejumlah daerah, termasuk Gorontalo, wacana tersebut memunculkan harapan agar kebijakan pembangunan nasional tetap memperhatikan kearifan lokal, kondisi geografis, dan kemampuan ekonomi masyarakat. (*)