Minggu, 29 Maret 2026

LIPSUS GENTENG

Tokoh Adat Gorontalo Sebut Penggunaan Atap Genteng tak Sesuai Kebiasaan Lokal

Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genteng secara nasional memicu tanggapan

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Tokoh Adat Gorontalo Sebut Penggunaan Atap Genteng tak Sesuai Kebiasaan Lokal
TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga
GENTENG--Tokoh adat Gorontalo, Alim S. Niode, memberikan pandangan soal wacana gentenisasi dari sudut pandang adat dan kultur, Jumat (6/2/2026). Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga. 
Ringkasan Berita:
  • Tokoh adat Gorontalo Alim S. Niode menilai wacana penggunaan atap genteng secara nasional perlu mempertimbangkan tradisi dan kebiasaan masyarakat lokal. 
  • Ia menyebut masyarakat Gorontalo sejak dahulu menggunakan atap berbahan daun dan kemudian beralih ke seng karena faktor ketersediaan serta kepraktisan.
  • Menurutnya, kebijakan pembangunan hunian sebaiknya tetap memberi ruang bagi keberagaman arsitektur dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genteng secara nasional memicu tanggapan dari kalangan tokoh adat di Gorontalo.

Selain menyoroti aspek kenyamanan hunian, wacana tersebut dinilai perlu mempertimbangkan sejarah budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Tokoh adat Gorontalo, Alim S Niode, menilai pola pembangunan hunian yang bersifat seragam berpotensi tidak selaras dengan praktik arsitektur tradisional masyarakat Gorontalo yang telah berlangsung lama.

“Secara kultural, masyarakat Gorontalo tidak terbiasa dengan atap genteng. Dari awal, atap rumah dan bangunan terbuat dari daun, baik daun nipah maupun daun kelapa,” ujar Alim saat diwawancarai, Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo

Menurutnya, penggunaan bahan atap dalam tradisi Gorontalo sejak dulu lebih menyesuaikan dengan ketersediaan material alam di sekitar permukiman. 

Seiring waktu, masyarakat memang mengalami perubahan dengan beralih dari atap daun ke bahan yang lebih modern.

“Belakangan masyarakat menggunakan seng. Memang ada juga variasi lain seperti asbes dan genteng, tetapi masyarakat Gorontalo lebih memilih seng karena praktis,” jelasnya.

Alim menilai perubahan material secara menyeluruh bukan hanya soal selera arsitektur, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan teknis dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Ia menyebut pergantian jenis atap berpotensi menambah beban, terutama bagi warga yang sudah terbiasa menggunakan material tertentu.

“Pergantian ini merepotkan masyarakat. Dari sisi teknis, dari sisi biaya dan anggaran, serta karena masyarakat sudah terbiasa dengan bahan yang selama ini digunakan,” katanya.

Selain itu, Alim mengungkapkan adanya pandangan simbolik yang berkembang di sebagian masyarakat terkait penggunaan genteng yang berbahan tanah.

Baca juga: Meski Dianjurkan Prabowo, Rupanya Tak Semua Warga Gorontalo Tertarik Genteng, Ini Alasan Mereka

Dalam pemahaman lama, tanah memiliki makna yang identik dengan posisi di bagian bawah.

“Masyarakat Gorontalo berpendapat tanah itu posisinya di bawah, bagian dari bumi. Kalau tanah dijadikan atap dan diletakkan di atas, itu bukan tradisi atau kebiasaan di sini,” ujarnya.

Ia menambahkan, persepsi tersebut bahkan sering dikaitkan dengan gambaran simbolik tertentu dalam kehidupan masyarakat.

“Ada pandangan bahwa rumah yang ditutup tanah di atas itu seperti kuburan yang ditimpa tanah,” katanya.

Meski demikian, Alim menegaskan pandangan tersebut tidak berlaku bagi seluruh masyarakat.

Ia menyebut hal itu lebih merupakan kebiasaan lama yang masih bertahan pada sebagian kelompok masyarakat.

“Tidak semua berpandangan seperti itu. Mungkin hanya sebagian atau sebagian kecil, tetapi itu kebiasaan lama yang masih melekat,” ungkapnya.

Menurut Alim, tradisi pemilihan bahan bangunan dalam budaya Gorontalo selama ini tidak dituangkan dalam aturan adat tertulis, melainkan terbentuk melalui praktik turun-temurun yang mengatur penggunaan material sesuai fungsi dan posisinya.

“Aturan itu tidak tertulis. Ia berdasarkan kebiasaan penggunaan bahan. Ada jenis kayu tertentu untuk bagian atas, jenis kayu tertentu untuk bagian bawah, termasuk pemilihan bambu dan bahan lainnya,” jelasnya.

Ia menegaskan, masyarakat Gorontalo sejak dahulu memahami jenis bahan atap yang lazim digunakan serta makna yang menyertainya dalam konstruksi rumah tradisional.

“Pilihan genteng itu tidak dikenal di sini. Secara turun-temurun kita tahu bahan atap apa yang digunakan dan apa maknanya,” katanya.

Alim juga menekankan bahwa penggunaan atap daun pada masa lalu bukan semata persoalan filosofi, melainkan karena faktor ketersediaan bahan di lingkungan sekitar.

“Itu bukan tafsir adat yang rumit. Hanya kebiasaan, karena bahan itu mudah tersedia di alam, lalu dijadikan atap,” ujarnya.

Di tengah perkembangan zaman, Alim menyatakan masyarakat tetap perlu diberi ruang untuk menentukan pilihan arsitektur rumah masing-masing.

Ia menilai keberagaman bentuk hunian justru menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.

Baca juga: Arsitek Beberkan Keunggulan Genteng dan Seng untuk Hunian di Gorontalo

“Saya lebih memilih membiarkan masyarakat membangun dan menentukan arsitektur rumah mereka sendiri. Tidak perlu diseragamkan, karena itu selera masing-masing,” tuturnya.

“Secara kultural, keragaman itu memperkaya hasil kebudayaan,” tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan wacana penggunaan atap genteng sebagai bagian dari penataan hunian rakyat.

Pemerintah menilai material tersebut dapat meningkatkan kenyamanan, kesehatan lingkungan rumah, serta mendukung tampilan permukiman yang lebih tertata.

Namun di sejumlah daerah, termasuk Gorontalo, wacana tersebut memunculkan harapan agar kebijakan pembangunan nasional tetap memperhatikan kearifan lokal, kondisi geografis, dan kemampuan ekonomi masyarakat. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved