Polemik Sampah Gorontalo
Nyawa Taruhannya! Peringatan Keras Warga Gorontalo bagi Pembuang Sampah di Jembatan Jodoh
Masyarakat memasang baliho bernada ancaman bagi pembuang sampah di kawasan Jembatan Jodoh
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Baliho-di-jembatan-jodoh.jpg)
Ringkasan Berita:
- Lantaran geram dengan tumpukan sampah yang membusuk dan berbau menyengat, warga di kawasan Jembatan Jodoh, Desa Tinelo, memasang baliho peringatan keras
- Kepala Desa Tinelo, Melys H. Ali, mengungkapkan bahwa narasi keras tersebut merupakan aspirasi warga yang sudah lama resah karena teguran biasa tidak pernah diindahkan
- Sebagai solusi permanen, pemerintah desa berencana menata ulang area pembuangan sampah liar
TRIBUNGORONTALO.COM – Masyarakat memasang baliho bernada ancaman bagi pembuang sampah di kawasan Jembatan Jodoh, Desa Tinelo, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Baliho berukuran sekitar 2x1 meter tersebut dipasang di pinggir jalan dengan tulisan mencolok berwarna merah. Isinya terbilang sangat keras.
Pada baliho tertulis: “Peringatan Keras, Berani Buang Sampah Sembarangan, Nyawa Taruhannya. Dibacok Warga Jangan Salahkan Kami, Ingat dan Camkan.” Sementara itu, pada baliho kedua tertulis: “Dilarang Buang Sampah di Tempat Ini, Area Ini dalam Pengawasan CCTV.”
Baca juga: Breaking News: Kecelakaan di Tolinggula Gorontalo Utara, 3 Remaja Terkapar
Pemasangan baliho bernada ancaman ini bukan tanpa alasan. Tepat di balik baliho tersebut, terlihat tumpukan sampah yang menggunung dan mulai membusuk.
Pantauan TribunGorontalo.com menunjukkan sampah menumpuk memanjang di bahu jalan. Jenisnya beragam, mulai dari sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga seperti popok bekas yang menimbulkan bau menyengat.
Kepala Desa Tinelo, Melys H Ali, mengakui bahwa baliho tersebut dipasang karena masalah pembuangan sampah liar di lokasi itu sudah berlangsung lama dan sulit dikendalikan. Ia menyebut kebiasaan buruk ini sudah terjadi bertahun-tahun dan terus berulang hingga kini.
Melys mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa saja oknum yang membuang sampah di lokasi tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa narasi keras dalam baliho itu bukanlah murni keinginan pemerintah desa, melainkan usulan masyarakat yang sudah lama resah.
Menurutnya, pemerintah desa sebelumnya telah berulang kali memberikan teguran dengan cara persuasif dan memasang peringatan biasa, namun hasilnya nihil.
“Sebenarnya kami sudah beberapa kali melakukan hal yang sama (menegur), tetapi dengan narasi yang biasa saja tetap tidak diindahkan,” ungkapnya.
Melys menyadari bahwa diksi dalam baliho tersebut cukup ekstrem. Namun, ia menilai kondisi tumpukan sampah di Jembatan Jodoh sudah sampai pada tahap tidak bisa ditoleransi.
“Kalaupun tulisannya dinilai agak keras, itu karena memang kondisi sampah di Jembatan Jodoh sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” tegasnya.
Baca juga: Breaking News: Kecelakaan di Tolinggula Gorontalo Utara, 3 Remaja Terkapar
Terkait pengelolaan sampah, Melys menjelaskan bahwa Desa Tinelo sebenarnya sudah bekerja sama dengan pihak ketiga. Warga yang ingin sampahnya diangkut dikenakan iuran sebesar Rp35 ribu per rumah tangga.
Namun, pihak pengangkut sampah keberatan membersihkan tumpukan di Jembatan Jodoh karena asal-usul sampah tersebut tidak jelas.
Melys menduga sampah-sampah itu bukan berasal dari warga Desa Tinelo, meski hal tersebut belum bisa dipastikan secara hukum.