Berita Lingkungan
Banjir Pohuwato Tak Bisa Disalahkan ke PETI Saja, Ini Kata WALHI Gorontalo
WALHI -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo menyebut aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) bukanlah sumber utama banjir
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BANJIR-POHUWATO-Banjir-di-Hulawa-Kabupaten-Pohuwato.jpg)
Ringkasan Berita:
- WALHI Gorontalo menilai keliru jika aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dijadikan satu-satunya penyebab banjir di Desa Hulawa, Pohuwato.
- Secara ilmiah, banjir merupakan akumulasi degradasi sistem Daerah Aliran Sungai (DAS), termasuk jenis tanah, perubahan tutupan hutan, serta aktivitas tambang legal dan ilegal.
- WALHI menegaskan kontribusi terbesar banjir justru berasal dari operasi ekstraktif skala besar yang menghilangkan tutupan hutan secara masif.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo menyebut aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) bukanlah sumber utama banjir di Kabupaten Pohuwato menuai.
Kepala Divisi Kampanye dan Advokasi WALHI Gorontalo, Ikha Mujiono, menegaskan bahwa banjir tidak bisa dipahami sebagai dampak dari satu faktor tunggal.
Secara ilmiah, banjir merupakan hasil akumulasi degradasi sistem hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi dalam jangka panjang.
Menurut Ikha, aktivitas PETI memang berkontribusi terhadap peningkatan erosi dan sedimentasi, khususnya di bagian hilir sungai.
Baca juga: 7 Berita Populer Kamis 8 Januari 2026: Potensi Banjir Limboto Barat Terulang-Buang Sampah Bisa Denda
Kondisi tersebut memicu pendangkalan sungai yang pada akhirnya mengurangi kapasitas aliran air saat curah hujan tinggi.
Namun, WALHI menilai kontribusi PETI bukanlah satu-satunya penyebab banjir.
“Hasil analisis spasial yang dilakukan WALHI Gorontalo menunjukkan bahwa di area konsesi PGP, jenis tanahnya terdiri atas Inseptisol, Entisol, dan Ultisol,” ungkap Ikha, Senin (19/1/2026).
Ia kemudian menjelaskan karakteristik masing-masing jenis tanah tersebut dalam kaitannya dengan potensi banjir.
Tanah Ultisol yang umumnya berada di wilayah hulu dan perbukitan memiliki daya infiltrasi rendah ketika tutupan hutan berkurang.
Kondisi ini menyebabkan limpasan permukaan meningkat dan mendorong debit air besar ke wilayah hilir.
Sementara itu, tanah Inseptisol yang berada di kaki lereng dan zona tengah DAS sangat rentan terhadap erosi apabila terbuka.
Proses erosi ini berkontribusi terhadap sedimentasi sungai, mempercepat pendangkalan, serta menurunkan daya tampung sungai saat hujan deras.
Adapun tanah Entisol yang banyak ditemukan di dataran rendah dan bantaran sungai merupakan zona genangan alami. Wilayah ini menjadi area yang paling terdampak ketika sungai meluap dan banjir terjadi.
Berdasarkan kondisi tersebut, WALHI Gorontalo menilai keliru apabila PETI dijadikan sebagai satu-satunya penyebab banjir di Desa Hulawa.
| Gercep! Tim Kebersihan Pastikan Sampah Sisa Tahun Baru di Kota Gorontalo Tak Kesiangan |
|
|---|
| TPA Talumelito Gorontalo Masih Andalkan Cara 'Kuno' Kelola Sampah, Anggaran Tak Sampai Rp 1 Miliar |
|
|---|
| Tumpukan Sampah di Danau Limboto Kian Mengkhawatirkan, Warga dan Nelayan Mengeluh Bau Busuk |
|
|---|
| Jadi Rest Area Burung Migran dari Berbagai Negara, Kondisi Danau Limboto Gorontalo Disorot Aktivis |
|
|---|
| Sudah Dibersihkan, Sampah di Leato Utara Gorontalo Kembali Menumpuk dan Timbulkan Bau Tak Sedap |
|
|---|