Berita Internasional
Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu
Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-STOK-Rudal-nuklir-Amerika-serikat.jpg)
Ia juga mengulang proyeksi Amerika Serikat bahwa China akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.
Namun delegasi China kembali menegaskan negaranya tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi baru bersama Washington dan Moskow pada tahap ini.
Beijing sebelumnya menyoroti jumlah hulu ledak nuklirnya jauh lebih sedikit, diperkirakan sekitar 600, dibandingkan sekitar 4.000 milik Rusia dan Amerika Serikat masing-masing.
“Dalam era baru ini, kami berharap Amerika Serikat meninggalkan pola pikir Perang Dingin dan mengedepankan keamanan bersama dan kooperatif,” kata Shen.
Pakar nuklir dari lembaga kajian keamanan GLOBSEC di Bratislava, Tomas Nagy, menilai Washington memilih mengungkap dugaan uji coba rahasia China hampir enam tahun lalu karena menilai Beijing kecil kemungkinan akan bekerja sama dalam isu tersebut.
Menurutnya, langkah itu mencerminkan kesimpulan Amerika Serikat bahwa dalam beberapa tahun ke depan tidak akan ada kemajuan signifikan dalam kerja sama dengan China terkait pengendalian senjata.
Di tengah ketegangan tersebut, Trump menyebut pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping mengenai perdagangan dan keamanan global berlangsung sangat positif. Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pada April mendatang.
Para analis keamanan menilai kesepakatan pengendalian senjata nuklir baru akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dirundingkan.
Situasi diperumit oleh pengembangan senjata baru oleh Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan akibat konflik di Ukraina, Timur Tengah, dan berbagai kawasan lain yang berpotensi meningkatkan risiko kesalahan perhitungan.
Tanpa adanya pembatasan yang jelas, Amerika Serikat dan Rusia dinilai berpotensi meningkatkan persenjataan nuklir masing-masing, terutama ketika China terus berupaya mengejar ketertinggalan.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Moskow tetap membuka dialog dengan Amerika Serikat setelah berakhirnya New START, namun siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Kremlin juga menyebut kedua negara telah mencapai kesepahaman untuk tetap bertindak secara bertanggung jawab dalam pertemuan di Abu Dhabi pekan ini.
Rusia juga menyatakan negara sekutu nuklir NATO, yakni Inggris dan Prancis, seharusnya ikut dilibatkan dalam negosiasi. Namun kedua negara tersebut menolak usulan itu.
Dalam forum Jenewa, Inggris menyatakan China, Rusia, dan Amerika Serikat perlu mencapai kesepahaman bersama.
Inggris juga menyatakan berbagi kekhawatiran dengan Amerika Serikat terkait ekspansi cepat persenjataan nuklir China.
Sementara Prancis menilai kesepakatan antara negara dengan persenjataan nuklir terbesar sangat penting di tengah melemahnya norma pengendalian senjata nuklir secara global.
(*)