Berita Internasional
Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu
Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-STOK-Rudal-nuklir-Amerika-serikat.jpg)
Ia bahkan menilai Amerika Serikat sebagai pihak yang memperparah perlombaan senjata nuklir global.
Para diplomat yang hadir dalam konferensi tersebut menyebut tuduhan Amerika Serikat sebagai hal baru sekaligus mengkhawatirkan.
China, seperti AS, telah menandatangani namun belum meratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) yang melarang uji coba ledakan nuklir.
Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 2026, Ini Jadwal Libur Anak Sekolah, Siswa Dapat Waktu Sepekan
Sementara Rusia telah menandatangani dan meratifikasi perjanjian tersebut, tetapi menarik ratifikasinya pada 2023.
Kepala badan pengawas perjanjian yang berbasis di Wina, Robert Floyd, menyatakan sistem pemantauan internasional tidak mendeteksi peristiwa yang konsisten dengan karakteristik ledakan uji coba senjata nuklir pada waktu yang dituduhkan tersebut.
Ia menambahkan analisis lebih lanjut juga tidak mengubah kesimpulan tersebut.
Direktur Arms Control Association, Daryl Kimball, menyarankan agar AS membawa bukti kredibel mengenai dugaan uji coba rahasia oleh Rusia atau China ke badan pengawas perjanjian dan melanjutkan dialog teknis dengan kedua negara.
Menurut Kimball, jika Amerika Serikat kembali melakukan uji coba nuklir sebagai respons terhadap tuduhan tersebut, langkah itu tidak hanya tidak diperlukan secara teknis, tetapi juga berpotensi memicu reaksi berantai uji coba nuklir oleh negara-negara lain yang memiliki senjata serupa.
Pengendalian senjata global kini menghadapi titik kritis. Perjanjian New START tahun 2010 yang berakhir pada Kamis lalu membuat Rusia dan Amerika Serikat, untuk pertama kalinya sejak 1972, tidak lagi memiliki pembatasan yang mengikat terkait penempatan rudal strategis dan hulu ledak nuklir.
Trump berencana menggantikan perjanjian tersebut dengan kesepakatan baru yang juga melibatkan China, yang saat ini meningkatkan persenjataan nuklirnya secara cepat.
Sementara itu, Washington menyatakan akan terus memodernisasi kekuatan nuklirnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Rusia dan China tidak boleh berharap Amerika Serikat akan diam saat kedua negara memperluas kekuatan nuklir mereka.
“Rusia dan China tidak seharusnya berharap Amerika Serikat akan diam ketika mereka mengabaikan kewajiban dan memperluas kekuatan nuklir mereka. Kami akan mempertahankan penangkal nuklir yang kuat, kredibel, dan modern,” tulis Rubio.
DiNanno juga menyatakan Amerika Serikat saat ini menghadapi ancaman dari beberapa negara pemilik senjata nuklir.
Ia menilai perjanjian bilateral yang hanya melibatkan satu negara nuklir tidak lagi relevan untuk kondisi global saat ini.