Perang Iran dan Amerika
Serangan Drone Iran Guncang Dubai hingga Bahrain, PBB Minta Dihentikan
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap bandara internasional, pelabuhan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/IRAN-Perang-Iran-dengan-AS-dan-Israel-memasuki-fase-lebih.jpg)
Ringkasan Berita:
- Serangan Iran ke sejumlah bandara, pelabuhan, dan fasilitas energi di kawasan Teluk menandai eskalasi baru konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung 12 hari.
- Serangan tersebut mengganggu jalur perdagangan minyak dunia dan memicu kebakaran di beberapa lokasi penting seperti Bahrain dan Oman.
- Dewan Keamanan PBB pun menuntut Iran menghentikan serangan yang dinilai mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan global.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap bandara internasional, pelabuhan, serta kapal komersial di kawasan Teluk, Rabu (11/3/2026), waktu setempat.
Serangan ini terjadi ketika serangan Amerika Serikat dan Israel terus mengguncang Teheran dalam konflik yang telah berlangsung selama 12 hari.
Serangan terbaru menandai eskalasi dalam strategi Iran yang diduga bertujuan menimbulkan tekanan ekonomi global agar Amerika Serikat dan Israel menghentikan perang. Namun hingga kini belum terlihat tanda-tanda konflik akan mereda.
Pada Kamis, serangan Iran memicu kebakaran besar di Pulau Muharraq, Bahrain, yang merupakan lokasi bandara internasional negara tersebut.
Baca juga: Trump Salah Perhitungan, Tak Menduga Perlawanan Iran hingga Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Otoritas setempat meminta warga tetap berada di dalam rumah dan menutup jendela untuk menghindari asap tebal.
Di sekitar bandara terdapat tangki bahan bakar pesawat serta fasilitas penyimpanan minyak yang menjadi bagian dari industri energi negara itu.
Di Irak, serangan di pelabuhan Basra menewaskan sedikitnya satu orang dan memaksa penghentian operasi di seluruh terminal minyak negara tersebut.
Direktur Jenderal Perusahaan Umum Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, mengatakan serangan itu menargetkan sebuah kapal di area transfer kapal ke kapal di Teluk Persia.
Meski pelabuhan komersial tetap beroperasi, seluruh terminal minyak dihentikan sementara.
Konflik ini juga berdampak besar pada biaya militer. Pentagon memperkirakan Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar 11,3 miliar dolar AS hanya dalam minggu pertama perang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 5 miliar dolar digunakan untuk amunisi pada akhir pekan pertama konflik.
Baca juga: Perang Iran dan Amerika Memukul Industri Pariwisata, Dampaknya Rp9,4 Triliun per Hari Hangus
Sementara itu, serangan Iran juga menargetkan ladang minyak dan kilang di negara-negara Arab Teluk serta secara efektif menghentikan lalu lintas kargo di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Sebagai respons terhadap gangguan pasokan energi, Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global, jumlah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
Amerika Serikat juga berencana melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya pekan depan untuk menekan lonjakan harga energi.