Berita Internasional
Trump Salah Perhitungan, Tak Menduga Perlawanan Iran hingga Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran pada 18 Februari lalu, sejumlah pejabat tinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TRUMP-MELINATAS-Donald-trump-melintas-di-sebuah-lapangan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ancaman Iran menutup jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz memicu kepanikan pasar energi global dan membuat kapal-kapal tanker menghentikan perjalanan.
- Pemerintahan Donald Trump disebut salah memperkirakan respons agresif Iran setelah serangan militer AS dan Israel.
- Lonjakan harga minyak pun terjadi, sementara Washington kini berupaya menahan dampak ekonomi yang mulai terasa.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran pada 18 Februari lalu, sejumlah pejabat tinggi di pemerintahannya yakin konflik tersebut tidak akan mengguncang pasar energi global.
Menteri Energi AS, Chris Wright, bahkan menyatakan tidak terlalu khawatir jika perang pecah di Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara, ia menilai pengalaman serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu menunjukkan pasar minyak tetap stabil.
Menurut Wright, saat itu harga minyak hanya sempat naik sesaat sebelum kembali turun. Ia menilai dampaknya terhadap pasar energi relatif kecil.
Beberapa penasihat Trump juga memiliki pandangan serupa secara tertutup.
Baca juga: AS Sudah Serang Iran, Tapi Trump Sebut ‘Gelombang Besar’ Belum Datang, Apa Maksudnya?
Mereka menganggap peringatan bahwa Iran bisa melakukan “perang ekonomi” dengan menutup jalur pelayaran minyak dunia sebagai ancaman yang dibesar-besarkan.
Namun perhitungan tersebut mulai dipertanyakan dalam beberapa hari terakhir.
Iran mengancam akan menembaki kapal tanker minyak komersial yang melintasi Strait of Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi pintu keluar utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia.
Selat ini sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.
Ancaman itu segera berdampak besar. Aktivitas pengiriman komersial di kawasan Teluk dilaporkan nyaris berhenti total.
Harga minyak melonjak, sementara pemerintahan Trump berupaya keras meredam potensi krisis ekonomi yang mulai memicu kenaikan harga bensin di Amerika Serikat.
Situasi ini menjadi gambaran bagaimana Washington dinilai salah memperkirakan respons Iran terhadap konflik yang oleh pemerintah di Tehran dianggap sebagai ancaman eksistensial.
Kali ini, respons Iran jauh lebih agresif dibandingkan perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu.
Iran meluncurkan rentetan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk pangkalan militer AS, kota-kota di negara Arab Timur Tengah, serta pusat-pusat populasi di Israel.