Berita Internasional
Trump Salah Perhitungan, Tak Menduga Perlawanan Iran hingga Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran pada 18 Februari lalu, sejumlah pejabat tinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TRUMP-MELINATAS-Donald-trump-melintas-di-sebuah-lapangan.jpg)
Pejabat Amerika pun terpaksa menyesuaikan rencana secara cepat. Langkah darurat mulai dari evakuasi kedutaan hingga penyusunan kebijakan untuk menekan harga bahan bakar kini tengah disiapkan.
Setelah pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pada Selasa, Senator Christopher S Murphy menyatakan pemerintah tidak memiliki rencana jelas untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ia bahkan menulis di media sosial bahwa pemerintahan Trump “tidak memiliki rencana” untuk memastikan jalur tersebut kembali aman.
Di dalam pemerintahan sendiri, beberapa pejabat mulai pesimistis terhadap tidak adanya strategi jelas untuk mengakhiri perang.
Namun mereka berhati-hati agar tidak menyampaikan kekhawatiran itu langsung kepada Trump.
Presiden AS tersebut berkali-kali menyatakan operasi militer yang dilakukan adalah kesuksesan besar.
Trump sendiri sempat menunjukkan frustrasi terhadap dampak perang pada pasokan minyak.
Dalam wawancara dengan Fox News, ia bahkan mendesak awak kapal tanker agar tetap berlayar melewati Selat Hormuz.
“Mereka harus menunjukkan sedikit keberanian,” kata Trump.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencoba mempersempit tujuan militer Amerika Serikat.
Rubio menyebut ada tiga target utama operasi militer tersebut: menghancurkan kemampuan Iran meluncurkan rudal, menghancurkan fasilitas produksi rudal, serta melumpuhkan angkatan laut Iran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya membuka jalan keluar dari konflik dalam waktu dekat.
Meski demikian, Trump juga mengatakan perang bisa berlangsung lebih dari satu bulan jika diperlukan.
Ia menegaskan Amerika Serikat siap melanjutkan operasi dengan tekad yang lebih kuat.
Sementara itu, Washington juga mencoba meredam kekhawatiran pasar energi dengan rencana meningkatkan pasokan minyak, termasuk melalui produksi dari Venezuela serta pembangunan kilang baru di Texas.
Namun hingga kini, ketegangan di kawasan Teluk masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasar energi global. (*)