Berita Internasional
Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu
Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-STOK-Rudal-nuklir-Amerika-serikat.jpg)
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia pada 2020 dan mendorong pembentukan perjanjian pengendalian senjata baru yang melibatkan Beijing.
- China membantah tuduhan tersebut dan menilai AS justru memperburuk perlombaan senjata nuklir global.
- Situasi ini terjadi setelah berakhirnya perjanjian New START yang selama ini membatasi persenjataan nuklir AS dan Rusia.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir secara rahasia pada 2020.
Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas dan melibatkan China selain Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi perlucutan senjata global, yang menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China pada momen krusial pengendalian senjata nuklir dunia.
Situasi ini terjadi sehari setelah perjanjian yang membatasi penyebaran rudal dan hulu ledak antara AS dan Rusia resmi berakhir.
Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, mengungkapkan pemerintah AS mengetahui bahwa China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk persiapan uji coba dengan daya ledak ratusan ton.
“Saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat mengetahui China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk persiapan uji coba dengan kekuatan ledak yang ditetapkan mencapai ratusan ton,” kata DiNanno dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa.
Menurutnya, militer China berusaha menyembunyikan uji coba tersebut dengan menyamarkan ledakan nuklir karena menyadari bahwa uji coba itu melanggar komitmen pelarangan pengujian.
Baca juga: Groundbreaking Hilirisasi Ayam, Bupati Thariq Modanggu : Alhamdulillah berawal dari Program G210
Ia menyebut China menggunakan metode yang dikenal sebagai “decoupling”, yakni teknik untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik sehingga aktivitas uji coba tidak mudah terdeteksi dunia.
DiNanno juga menyebut China melakukan salah satu uji coba yang menghasilkan daya ledak pada 22 Juni 2020.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Oktober lalu memerintahkan militer AS untuk segera melanjutkan proses uji coba senjata nuklir.
Trump menyatakan negara lain juga melakukan hal serupa, meski tidak memberikan rincian maupun menyebut negara tertentu.
Duta Besar China untuk perlucutan senjata, Shen Jian, tidak menanggapi langsung tuduhan tersebut.
Namun ia menegaskan bahwa Beijing selalu bertindak hati-hati dan bertanggung jawab dalam isu nuklir.
“China mencatat bahwa Amerika Serikat terus membesar-besarkan apa yang disebut ancaman nuklir China. China dengan tegas menentang narasi palsu semacam itu,” ujar Shen.