Berita Internasional
Trump Minta Dunia Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Banyak Negara Pilih Diam
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta sejumlah negara besar seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-Ketegangan-di-Timur-Tengah-meningkat-setelah-Iran-membatasi-akses.jpg)
Ringkasan Berita:
- Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan Israel memasuki pekan ketiga, sementara seruan Donald Trump agar negara-negara dunia mengirim kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz belum mendapat komitmen jelas.
- Iran menyatakan selat tersebut tetap terbuka bagi negara lain kecuali Amerika Serikat dan sekutunya, di tengah meningkatnya serangan rudal dan drone di kawasan Teluk.
- Konflik yang meluas ini memicu lonjakan harga minyak dunia, korban jiwa di beberapa negara
TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta sejumlah negara besar seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang guna menjaga Selat Hormuz tetap “terbuka dan aman” di tengah perang dengan Iran.
Namun hingga Minggu, seruan tersebut belum menghasilkan komitmen nyata dari negara-negara yang diminta membantu, bahkan ketika harga minyak dunia melonjak tajam akibat konflik yang terus memanas.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima ekspor minyak global.
Gangguan di jalur ini langsung berdampak pada pasokan energi dunia.
Baca juga: Warga Gorontalo Padati Center Point, Pasar Senggol Jadi Magnet Belanja di Penghujung Ramadan
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan pemerintah AS telah melakukan dialog dengan beberapa negara terkait upaya membuka kembali jalur tersebut.
Ia menyebut China diharapkan dapat menjadi mitra yang konstruktif dalam upaya memastikan Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran telah dihubungi oleh sejumlah negara yang meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka untuk melintasi selat tersebut.
Menurut Araghchi, keputusan terkait izin pelayaran berada di tangan militer Iran.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa kapal dari berbagai negara telah diizinkan melintas, meskipun tidak menjelaskan negara mana saja yang dimaksud.
Iran sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka bagi semua negara, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya.
“Kami tidak melihat alasan untuk berbicara dengan Amerika mengenai cara mengakhiri perang ini,” kata Araghchi.
Ia menegaskan bahwa konflik dimulai oleh serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Tel Aviv pada 28 Februari, yang terjadi di tengah pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran.
Negara-Negara Dunia Bersikap Hati-Hati
Sejumlah negara yang diminta membantu oleh Washington menunjukkan sikap berhati-hati.
Menteri Energi Inggris, Ed Miliband, mengatakan pemerintahnya sedang berdiskusi intensif dengan para sekutu mengenai langkah yang dapat diambil.
Berita Internasional
Perang Iran dan Amerika
Selat Hormuz
tentara amerika
Militer Amerika Serikat
Komando Pusat Amerika Serikat
| Trump Klaim Serangan Udara Besar-besaran AS Hancurkan Target Militer Iran di Pulau Kharg |
|
|---|
| Enam Kru Militer Amerika Meninggal dalam Kecelakaan Pesawat KC-135 di Irak Barat |
|
|---|
| Pesawat Pengisi Bahan Bakar Udara Amerika Jatuh di Irak, Klaim Ditembak Kelompok Pro-Iran |
|
|---|
| Rusia Marah Resolusinya soal Perdamaian di Iran Ditolak PBB, China Ikut Kecewa |
|
|---|
| Harga Minyak Tembus 101 Dolar, AS Keluarkan Cadangan Darurat |
|
|---|