Jumat, 20 Maret 2026

Berita Internasional

Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu

Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu
TribunGorontalo.com
FOTO STOK -- Rudal nuklir Amerika serikat. TUDUH CHINA -- Amerika menuding China diam-diam ujicoba nuklir. 
Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia pada 2020 dan mendorong pembentukan perjanjian pengendalian senjata baru yang melibatkan Beijing. 
  • China membantah tuduhan tersebut dan menilai AS justru memperburuk perlombaan senjata nuklir global. 
  • Situasi ini terjadi setelah berakhirnya perjanjian New START yang selama ini membatasi persenjataan nuklir AS dan Rusia.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Amerika Serikat menuduh China melakukan uji coba nuklir secara rahasia pada 2020.

Tuduhan itu disampaikan Washington bersamaan dengan dorongan agar dibentuk perjanjian baru pengendalian senjata nuklir yang lebih luas dan melibatkan China selain Rusia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi perlucutan senjata global, yang menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China pada momen krusial pengendalian senjata nuklir dunia.

Situasi ini terjadi sehari setelah perjanjian yang membatasi penyebaran rudal dan hulu ledak antara AS dan Rusia resmi berakhir.

Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional, Thomas DiNanno, mengungkapkan pemerintah AS mengetahui bahwa China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk persiapan uji coba dengan daya ledak ratusan ton.

“Saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat mengetahui China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk persiapan uji coba dengan kekuatan ledak yang ditetapkan mencapai ratusan ton,” kata DiNanno dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa.

Menurutnya, militer China berusaha menyembunyikan uji coba tersebut dengan menyamarkan ledakan nuklir karena menyadari bahwa uji coba itu melanggar komitmen pelarangan pengujian.

Baca juga: Groundbreaking Hilirisasi Ayam, Bupati Thariq Modanggu : Alhamdulillah berawal dari Program  G210

Ia menyebut China menggunakan metode yang dikenal sebagai “decoupling”, yakni teknik untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik sehingga aktivitas uji coba tidak mudah terdeteksi dunia.

DiNanno juga menyebut China melakukan salah satu uji coba yang menghasilkan daya ledak pada 22 Juni 2020.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Oktober lalu memerintahkan militer AS untuk segera melanjutkan proses uji coba senjata nuklir.

Trump menyatakan negara lain juga melakukan hal serupa, meski tidak memberikan rincian maupun menyebut negara tertentu.

Duta Besar China untuk perlucutan senjata, Shen Jian, tidak menanggapi langsung tuduhan tersebut.

Namun ia menegaskan bahwa Beijing selalu bertindak hati-hati dan bertanggung jawab dalam isu nuklir.

“China mencatat bahwa Amerika Serikat terus membesar-besarkan apa yang disebut ancaman nuklir China. China dengan tegas menentang narasi palsu semacam itu,” ujar Shen.

Ia bahkan menilai Amerika Serikat sebagai pihak yang memperparah perlombaan senjata nuklir global.

Para diplomat yang hadir dalam konferensi tersebut menyebut tuduhan Amerika Serikat sebagai hal baru sekaligus mengkhawatirkan.

China, seperti AS, telah menandatangani namun belum meratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) yang melarang uji coba ledakan nuklir.

Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 2026, Ini Jadwal Libur Anak Sekolah, Siswa Dapat Waktu Sepekan

Sementara Rusia telah menandatangani dan meratifikasi perjanjian tersebut, tetapi menarik ratifikasinya pada 2023.

Kepala badan pengawas perjanjian yang berbasis di Wina, Robert Floyd, menyatakan sistem pemantauan internasional tidak mendeteksi peristiwa yang konsisten dengan karakteristik ledakan uji coba senjata nuklir pada waktu yang dituduhkan tersebut.

Ia menambahkan analisis lebih lanjut juga tidak mengubah kesimpulan tersebut.

Direktur Arms Control Association, Daryl Kimball, menyarankan agar AS membawa bukti kredibel mengenai dugaan uji coba rahasia oleh Rusia atau China ke badan pengawas perjanjian dan melanjutkan dialog teknis dengan kedua negara.

Menurut Kimball, jika Amerika Serikat kembali melakukan uji coba nuklir sebagai respons terhadap tuduhan tersebut, langkah itu tidak hanya tidak diperlukan secara teknis, tetapi juga berpotensi memicu reaksi berantai uji coba nuklir oleh negara-negara lain yang memiliki senjata serupa.

Pengendalian senjata global kini menghadapi titik kritis. Perjanjian New START tahun 2010 yang berakhir pada Kamis lalu membuat Rusia dan Amerika Serikat, untuk pertama kalinya sejak 1972, tidak lagi memiliki pembatasan yang mengikat terkait penempatan rudal strategis dan hulu ledak nuklir.

Trump berencana menggantikan perjanjian tersebut dengan kesepakatan baru yang juga melibatkan China, yang saat ini meningkatkan persenjataan nuklirnya secara cepat.

Sementara itu, Washington menyatakan akan terus memodernisasi kekuatan nuklirnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Rusia dan China tidak boleh berharap Amerika Serikat akan diam saat kedua negara memperluas kekuatan nuklir mereka.

“Rusia dan China tidak seharusnya berharap Amerika Serikat akan diam ketika mereka mengabaikan kewajiban dan memperluas kekuatan nuklir mereka. Kami akan mempertahankan penangkal nuklir yang kuat, kredibel, dan modern,” tulis Rubio.

DiNanno juga menyatakan Amerika Serikat saat ini menghadapi ancaman dari beberapa negara pemilik senjata nuklir.

Ia menilai perjanjian bilateral yang hanya melibatkan satu negara nuklir tidak lagi relevan untuk kondisi global saat ini.

Ia juga mengulang proyeksi Amerika Serikat bahwa China akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.

Namun delegasi China kembali menegaskan negaranya tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi baru bersama Washington dan Moskow pada tahap ini.

Beijing sebelumnya menyoroti jumlah hulu ledak nuklirnya jauh lebih sedikit, diperkirakan sekitar 600, dibandingkan sekitar 4.000 milik Rusia dan Amerika Serikat masing-masing.

“Dalam era baru ini, kami berharap Amerika Serikat meninggalkan pola pikir Perang Dingin dan mengedepankan keamanan bersama dan kooperatif,” kata Shen.

Pakar nuklir dari lembaga kajian keamanan GLOBSEC di Bratislava, Tomas Nagy, menilai Washington memilih mengungkap dugaan uji coba rahasia China hampir enam tahun lalu karena menilai Beijing kecil kemungkinan akan bekerja sama dalam isu tersebut.

Menurutnya, langkah itu mencerminkan kesimpulan Amerika Serikat bahwa dalam beberapa tahun ke depan tidak akan ada kemajuan signifikan dalam kerja sama dengan China terkait pengendalian senjata.

Di tengah ketegangan tersebut, Trump menyebut pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping mengenai perdagangan dan keamanan global berlangsung sangat positif. Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pada April mendatang.

Para analis keamanan menilai kesepakatan pengendalian senjata nuklir baru akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dirundingkan.

Situasi diperumit oleh pengembangan senjata baru oleh Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan akibat konflik di Ukraina, Timur Tengah, dan berbagai kawasan lain yang berpotensi meningkatkan risiko kesalahan perhitungan.

Tanpa adanya pembatasan yang jelas, Amerika Serikat dan Rusia dinilai berpotensi meningkatkan persenjataan nuklir masing-masing, terutama ketika China terus berupaya mengejar ketertinggalan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Moskow tetap membuka dialog dengan Amerika Serikat setelah berakhirnya New START, namun siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Kremlin juga menyebut kedua negara telah mencapai kesepahaman untuk tetap bertindak secara bertanggung jawab dalam pertemuan di Abu Dhabi pekan ini.

Rusia juga menyatakan negara sekutu nuklir NATO, yakni Inggris dan Prancis, seharusnya ikut dilibatkan dalam negosiasi. Namun kedua negara tersebut menolak usulan itu.

Dalam forum Jenewa, Inggris menyatakan China, Rusia, dan Amerika Serikat perlu mencapai kesepahaman bersama.

Inggris juga menyatakan berbagi kekhawatiran dengan Amerika Serikat terkait ekspansi cepat persenjataan nuklir China.

Sementara Prancis menilai kesepakatan antara negara dengan persenjataan nuklir terbesar sangat penting di tengah melemahnya norma pengendalian senjata nuklir secara global.

 (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 20 Maret 2026 (30 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:28
Subuh 04:38
Zhuhr 11:59
‘Ashr 14:59
Maghrib 18:02
‘Isya’ 19:10

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved