Berita Internasional
Iran Pulihkan Panggilan Internasional, Internet Domestik Tetap Diblokir di Tengah Gejolak Protes
Pemerintah Iran mulai melonggarkan pembatasan komunikasi nasional dengan kembali membuka layanan panggilan internasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PROTES-DI-IRAN-Gerombolan-massa-protes-pemerintah-IRAN.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintah Iran mulai melonggarkan pembatasan komunikasi nasional dengan kembali membuka layanan panggilan internasional.
Namun, akses internet domestik maupun internasional masih tetap diblokir secara menyeluruh.
Kebijakan ini muncul setelah gelombang protes anti-pemerintah yang dipicu krisis ekonomi berat serta anjloknya nilai mata uang rial Iran.
Sejumlah laporan menyebutkan, warga Iran kini sudah dapat melakukan panggilan telepon ke luar negeri menggunakan ponsel.
Baca juga: Adhan Dambea Kantongi Nama-nama Calon Lurah Kota Gorontalo, Prioritaskan Lulusan IPDN
Pemulihan layanan ini terjadi beberapa hari setelah otoritas keamanan tertinggi Iran memerintahkan pemadaman total jaringan komunikasi nasional melalui Kementerian Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Kamis lalu.
Meski begitu, pemerintah menegaskan bahwa pemblokiran internet akan tetap diberlakukan hingga situasi keamanan dinilai sepenuhnya pulih.
Keputusan ini turut menjadi perhatian negara-negara tetangga, termasuk Türkiye, yang memantau stabilitas kawasan secara ketat mengingat dampak regional dari situasi di Iran.
Gelombang protes yang merebak di Teheran dan sejumlah kota besar lainnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi masyarakat.
Lonjakan harga kebutuhan pokok dan depresiasi nilai tukar rial yang mencapai titik terendah dalam sejarah memperparah tekanan hidup warga.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi-aksi yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “aksi terorisme”.
Pelunakan sebagian pembatasan komunikasi ini bertepatan dengan laporan media lokal yang menyebutkan bahwa intensitas demonstrasi mulai menurun.
Penurunan tersebut diduga terjadi setelah aparat keamanan melakukan penangkapan massal terhadap para demonstran dalam beberapa hari terakhir.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis angka resmi korban tewas, sehingga memunculkan perbedaan data.
Media semi-resmi Iran melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan meninggal dunia.
Sementara itu, lembaga pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan sedikitnya 646 orang tewas, termasuk warga sipil dan aparat keamanan, serta lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka.
Kepala Pusat Nasional Dunia Siber Iran, Mohammad Amin Aqamiri, melalui media pemerintah menyatakan bahwa waktu pemulihan kondisi normal akan diumumkan di kemudian hari.
Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa pembatasan digital masih akan menjadi instrumen utama pemerintah dalam mengendalikan situasi selama periode ketegangan berlangsung. (*)
| Mojtaba Khamenei jadi Pemimpin Baru Iran, Amerika Emosi Sebut tak Bakal "Hidup" Lama |
|
|---|
| Perang Iran Meluas ke Banyak Negara, Lebih dari 1.300 Orang Tewas dalam Enam Hari |
|
|---|
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|