Berita Internasional

Lebih dari 2.000 Orang Tewas dalam Penumpasan Brutal Protes di Iran

Penindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang protes nasional dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang hanya dalam

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
PROTES DI IRAN -- Gerombolan massa protes pemerintah IRAN. Terkonfirmasi sudah 2000 warga meninggal 

Kondisi memburuk secara signifikan sejak Kamis pekan lalu, ketika aparat keamanan merespons demonstrasi dengan kekuatan mematikan.

Penindakan tersebut terjadi di tengah pemadaman hampir total layanan internet dan komunikasi, sehingga menyulitkan verifikasi informasi dari dalam negeri.

Pada Selasa sore, HRANA menyatakan telah memastikan sedikitnya 2.003 orang tewas dan masih memverifikasi laporan tambahan terkait 779 korban lainnya.

“Kami benar-benar ngeri, dan kami masih meyakini angka ini tergolong konservatif,” ujar Wakil Direktur HRANA, Skylar Thompson, kepada Associated Press.

Sementara itu, organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan telah mengonfirmasi kematian sedikitnya 734 demonstran. Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, mengatakan kepada AFP bahwa data tersebut baru mencakup kurang dari setengah provinsi di Iran dan kurang dari 10 persen rumah sakit.

“Jumlah korban sebenarnya kemungkinan mencapai ribuan,” kata Mahmood.

Jenazah Menumpuk, Rumah Sakit Kewalahan

Sulit memastikan skala kekerasan yang sebenarnya karena media internasional, termasuk BBC, tidak dapat melaporkan langsung dari dalam Iran.

Namun, sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan kondisi mengerikan di lapangan.

Pada Minggu, sebuah video memperlihatkan warga mencari jenazah anggota keluarga mereka di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran.

BBC menghitung sedikitnya 180 jasad yang terbungkus kain kafan dan kantong jenazah dalam rekaman tersebut.

Video lain yang diunggah keesokan harinya menunjukkan sekitar 50 jenazah tambahan di lokasi yang sama.

“Teman saya pergi ke Kahrizak untuk mencari saudaranya. Dia sampai melupakan kesedihannya sendiri,” ujar seorang aktivis kepada BBC Persian.

“Jenazah ditumpuk berdasarkan lingkungan. Orang-orang mencari keluarga mereka di tumpukan itu. Kalian tidak bisa membayangkan tingkat kekerasan yang digunakan,” lanjutnya.

Rumah sakit di Teheran dan kota-kota lain dilaporkan kewalahan menangani korban. Seorang dokter Iran yang kini bermukim di London menyebut kondisi rumah sakit “seperti zona perang”.

“Kami kekurangan suplai, kekurangan darah,” ujar dokter tersebut mengutip pesan dari rekan-rekannya di Teheran.

(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved