Berita Internasional
Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Trump Ingin Bikin Kesepakatan Baru Libatkan China
Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERJANJIAN-NUKLIR-Berakhirnya-perjanjian-nuklir-Rusia-AS.jpg)
Ringkasan Berita:
- Berakhirnya Perjanjian New START mengakhiri pembatasan persenjataan nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia yang telah berlangsung lebih dari lima dekade.
- Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya kesepakatan tersebut, sementara AS mendorong keterlibatan China dalam perjanjian baru yang hingga kini ditolak Beijing.
- Para pengamat memperingatkan situasi ini berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir baru yang melibatkan tiga kekuatan besar dunia.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington.
Berakhirnya Perjanjian New START menandai pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad tidak ada lagi pembatas jumlah persenjataan nuklir antara dua negara dengan arsenal atom terbesar di dunia tersebut.
Para pakar pengendalian senjata menilai berakhirnya perjanjian tersebut berpotensi membuka jalan bagi perlombaan senjata nuklir tanpa batas. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran meningkatnya ketegangan global di tengah rivalitas kekuatan besar.
Putin Tawarkan Perpanjangan, AS Belum Pastikan Sikap
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan kesiapan mempertahankan batasan yang diatur dalam perjanjian tersebut selama satu tahun tambahan, asalkan Amerika Serikat melakukan langkah serupa.
Namun, Presiden AS Donald Trump belum menunjukkan komitmen jelas terkait perpanjangan perjanjian tersebut.
Trump justru menginginkan agar China turut dilibatkan dalam kesepakatan baru. Usulan ini mendapat penolakan dari Beijing yang menilai kekuatan nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia.
Baca juga: Debut Gemilang Karim Benzema di Al Hilal, Cetak Hattrick dan Satu Assist
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pengendalian senjata nuklir di abad ke-21 tidak akan efektif tanpa melibatkan China, mengingat persediaan senjata nuklir negara tersebut terus berkembang pesat.
Rusia Tegaskan Tetap Bertindak ‘Bertanggung Jawab’
Putin diketahui membahas berakhirnya perjanjian tersebut dengan Presiden China Xi Jinping.
Dalam pembicaraan itu, Rusia menilai Amerika Serikat tidak merespons usulan perpanjangan yang sebelumnya diajukan Moskow.
Penasihat Kremlin Yuri Ushakov menyebut Rusia akan mengambil langkah yang seimbang dan bertanggung jawab berdasarkan analisis menyeluruh terhadap situasi keamanan global.
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menegaskan Rusia memandang berakhirnya perjanjian tersebut secara negatif.
Meski demikian, Moskow menyatakan tetap membuka peluang dialog apabila mendapat respons konstruktif dari pihak Amerika Serikat.
Rusia juga menegaskan akan mempertimbangkan langkah militer-teknis tegas guna menghadapi potensi ancaman tambahan terhadap keamanan nasionalnya.
AS dan Rusia Sepakat Hidupkan Dialog Militer
Di tengah berakhirnya New START, Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk kembali membuka jalur komunikasi militer tingkat tinggi.