Berita Viral
Usai Insiden Kematian Anggota Satpol PP, Ibu Kandung ODGJ di Kebumen Ungkap Kondisi sang Anak
Di balik duka mendalam atas gugurnya anggota Satpol PP Kebumen, Mochamad Faik, terselip kisah pilu dari pihak keluarga yang terlibat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260203_KEBUMEN7.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mursiyah, ibu kandung R, mengungkapkan bahwa anaknya telah mengalami gangguan jiwa selama hampir 10 tahun
- Saat proses evakuasi di Desa Krakal, Kecamatan Alian, R mendadak menyerang tim gabungan dengan senjata tajam
- Faik dikenal sebagai anak sulung yang berbakti dan pendiam
TRIBUNGORONTALO.COM – Di balik duka mendalam atas gugurnya anggota Satpol PP Kebumen, Mochamad Faik, terselip kisah pilu dari pihak keluarga yang terlibat.
Mursiyah, ibu kandung dari ODGJ berinisial R, akhirnya buka suara mengenai kondisi psikologis anaknya yang telah lama menjadi beban batin bagi keluarga sebelum tragedi berdarah itu terjadi di Desa Krakal.
Sambil menahan kesedihan, Mursiyah mengungkapkan bahwa kondisi kejiwaan anaknya bukanlah hal baru, melainkan penderitaan yang sudah berlangsung selama hampir satu dekade.
Ia menyebut sang anak sudah kehilangan stabilitas mental sejak 10 tahun terakhir, sebuah durasi yang membuat keluarga terus berada dalam bayang-bayang kecemasan.
Menurut Mursiyah, dalam kesehariannya sang anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah atau sekadar duduk-duduk di kawasan Pasar Jadi.
Namun, ketenangan itu sering kali semu karena sewaktu-waktu emosinya bisa meledak tanpa peringatan yang jelas.
"Anak saya itu sudah sakit jiwa hampir 10 tahun. Seringnya ya di luar, di Pasar Jadi, duduk-duduk begitu," ujar Mursiyah dengan nada lirih saat ditemui Kompas.com pada Kamis (5/2/2026).
Mursiyah menceritakan betapa sulitnya mengontrol perilaku anaknya saat berada di dalam rumah.
Ia tak menampik bahwa pihak keluarga sering kali merasa terancam karena amarah sang anak yang sulit diprediksi dan ucapannya yang mulai tidak masuk akal.
Ketakutan keluarga semakin menjadi ketika sang anak mulai menunjukkan perilaku agresif atau "ngamuk".
Mursiyah mengaku bahwa segenap anggota keluarga sebenarnya hidup dalam rasa was-was yang luar biasa setiap harinya menghadapi kondisi tersebut.
"Sering ngamuk, sering marah-marah. Kadang ngomongnya juga sudah nggak karuan. Kami sekeluarga sebenarnya takut dan khawatir," tuturnya jujur menggambarkan situasi mencekam di internal keluarganya.
Terkait insiden penyerangan yang menewaskan Mochamad Faik, Mursiyah mengaku sangat terpukul dan merasa bersalah.
Ia menegaskan bahwa pihak keluarga sama sekali tidak menginginkan adanya korban jiwa, apalagi seorang petugas yang sedang berniat membantu evakuasi.