Berita Internasional
Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Trump Ingin Bikin Kesepakatan Baru Libatkan China
Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERJANJIAN-NUKLIR-Berakhirnya-perjanjian-nuklir-Rusia-AS.jpg)
Kesepakatan tersebut dicapai setelah pertemuan pejabat senior kedua negara di Abu Dhabi.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Besok Sabtu 7 Februari 2026: Berpotensi Hujan di Boalemo, Pohuwato, Gorontalo Utara
Dialog militer tersebut sebelumnya dihentikan pada 2021 saat hubungan kedua negara memburuk menjelang invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Langkah pembukaan kembali komunikasi militer dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.
Isi Perjanjian New START
Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
Kesepakatan tersebut membatasi masing-masing negara hanya boleh memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada tidak lebih dari 700 rudal dan pesawat pengebom strategis yang siap digunakan.
Perjanjian ini awalnya dijadwalkan berakhir pada 2021, namun kemudian diperpanjang selama lima tahun.
Kesepakatan tersebut juga mengatur inspeksi langsung untuk memastikan kepatuhan, meski kegiatan itu dihentikan sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan tidak pernah dilanjutkan kembali.
Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian tersebut.
Ia beralasan Rusia tidak dapat mengizinkan inspeksi fasilitas nuklirnya ketika Amerika Serikat dan sekutu NATO secara terbuka menargetkan kekalahan Rusia dalam konflik Ukraina.
Meski demikian, Rusia saat itu tetap berjanji mematuhi batas persenjataan yang telah disepakati.
Trump Dorong China Ikut Kesepakatan Baru
Trump menyatakan tetap mendukung pembatasan senjata nuklir, namun menilai kesepakatan baru harus melibatkan China.
Ia sebelumnya mencoba mendorong pembentukan perjanjian nuklir tiga pihak, tetapi gagal karena penolakan Beijing.
Pemerintah China menegaskan kekuatan nuklirnya tidak sebanding dengan AS dan Rusia sehingga menolak ikut perundingan pelucutan senjata pada tahap saat ini.
Beijing justru meminta Amerika Serikat kembali melanjutkan dialog nuklir dengan Rusia serta merespons positif usulan Moskow untuk tetap mematuhi batasan utama perjanjian sementara waktu.
Rusia sendiri menghormati sikap China. Namun, pejabat Moskow juga menilai bahwa jika perjanjian nuklir baru ingin diperluas, maka harus melibatkan negara anggota NATO yang memiliki senjata nuklir seperti Prancis dan Inggris.