Berita Internasional
AS Siap Serang Iran Akhir Pekan Ini? Pejabat Militer Bocorkan Rencana ke Sekutu Timur Tengah
Pejabat tinggi militer Amerika Serikat telah memberi tahu pimpinan salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah bahwa Presiden Donald Trump
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-Sumber-intelijen-menyebut-tujuan-serangan-bukan-sekadar-nuklir.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pejabat militer AS memberi tahu sekutu Timur Tengah bahwa Presiden Donald Trump berpotensi mengizinkan serangan ke Iran dalam waktu dekat.
- Sumber intelijen menyebut tujuan serangan bukan sekadar nuklir, melainkan upaya mengganti rezim Iran dengan menargetkan kepemimpinan IRGC.
- Meski diplomasi masih diupayakan, Iran memperingatkan akan melakukan balasan besar-besaran jika diserang.
TRIBUNGORONTALO.COM - Pejabat tinggi militer Amerika Serikat telah memberi tahu pimpinan salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah bahwa Presiden Donald Trump berpotensi mengizinkan serangan militer ke Iran akhir pekan ini.
Hal itu dikonfirmasi sejumlah sumber kepada Drop Site News. Serangan disebut bisa dimulai secepat Minggu, jika Washington memutuskan untuk melanjutkan rencana tersebut.
“Ini bukan soal senjata nuklir atau program misil. Ini soal pergantian rezim,” ujar seorang mantan pejabat intelijen senior AS yang kini menjadi konsultan bagi sejumlah pemerintah Arab dan penasihat informal pemerintahan Trump dalam kebijakan Timur Tengah.
Baca juga: Presiden Rusia Putin Setuju Hentikan Serangan ke Kyiv Ukraina Selama Sepekan Usai Diminta Trump
Menurutnya, para perencana perang AS membayangkan serangan yang menargetkan fasilitas nuklir, balistik, dan militer Iran, sekaligus upaya memenggal kepemimpinan pemerintahan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
IRGC merupakan cabang militer Iran yang dibentuk pascarevolusi 1979 dan kini memegang peran besar dalam politik serta ekonomi negara tersebut.
Target Pergantian Rezim
Sumber tersebut menyebut pemikiran di internal pemerintahan Trump adalah bahwa serangan yang berhasil terhadap kepemimpinan Iran akan memicu rakyat turun ke jalan, sehingga berujung pada runtuhnya pemerintahan.
Netanyahu disebut “berharap serangan itu terjadi” dan meyakinkan Trump bahwa Israel dapat membantu membentuk pemerintahan baru di Iran yang bersahabat dengan Barat.
Dua pejabat intelijen senior Arab mengatakan kepada Drop Site bahwa mereka menerima informasi serangan AS bisa terjadi “dalam waktu dekat”.
Upaya Diplomasi Menit Terakhir
Pemberitahuan AS kepada sekutu Arab ini muncul di tengah upaya intens negara-negara kawasan untuk memediasi dialog AS–Iran guna mencegah perang.
Pada Jumat, Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan para pemimpin Turki untuk mendorong solusi diplomatik.
Negara-negara kawasan juga berusaha membentuk jalur komunikasi belakang layar, termasuk kemungkinan pertemuan trilateral antara pemimpin Iran, AS, dan Turki, guna menggagalkan serangan yang diperkirakan akan terjadi.
Arab Saudi, pada Selasa, menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan dalam percakapan telepon antara Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut kantor berita resmi Saudi, SPA. Uni Emirat Arab juga menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran.
AS dan Iran Saling Kirim Peringatan
Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak berkomentar. Gedung Putih merujuk Drop Site pada pernyataan Trump di Ruang Oval, di mana ia mengatakan AS memiliki “armada besar yang sedang bergerak menuju Iran”, meski enggan mengonfirmasi apakah Iran telah diberi tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan.