Berita Nasional

Hati-Hati! Tawaran Kerja Bergaji Tinggi di Myanmar, Kamboja, dan Thailand Bisa Berbahaya

Pasalnya, banyak kasus hukum yang menjerat Warga Negara Indonesia (WNI) di negara-negara tersebut.

Editor: Wawan Akuba
FOTO: TribunNews
WASPADA TPPO - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding menjawab pertanyaan dari Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra saat wawancara khusus di Kantor Tribun Network, Jakarta, Senin (9/12/2024). 

Salman bersama 83 warga negara Indonesia (WNI) akhirnya tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Jumat (28/2) malam.

Mereka merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja sebagai penipu online atau online scam di Kamboja dan Myanmar.

Di Terminal 2F, Salman duduk bersama rombongan, sebagian besar mengenakan masker hijau untuk menutupi wajah mereka.

Bandana merah yang terikat di leher menjadi tanda bahwa mereka berasal dari kelompok penerbangan yang sama. 

Pandangan Salman kerap tertunduk saat sejumlah pejabat dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial, Bareskrim Polri, dan Interpol mengamati mereka.

Dijanjikan Karier Cemerlang, Berakhir di Jebakan Penipuan Online

Salman, pria asal Selat Panjang, Riau, mengungkapkan bagaimana ia bisa terjebak dalam skema ini.

Pada 22 April 2024, ia menerima tawaran pekerjaan sebagai marketing di sebuah platform jual beli online di Kamboja.

“Saya dijanjikan gaji besar, lingkungan kerja aman, dan pekerjaan yang tidak melibatkan aktivitas fisik,” kata Salman.

“Namun, kenyataannya jauh dari harapan.”

Alih-alih bekerja sebagai marketing, ia dipaksa berpura-pura menjadi wanita di media sosial untuk menipu pria dari Indonesia dan Malaysia.

Melalui Facebook dan Instagram, ia harus membujuk korban agar masuk ke dalam jebakan penipuan daring.

“Tugas kami adalah menarik korban dari Indonesia dan Malaysia,” ungkapnya.

Selama dua bulan bekerja di Kamboja, Salman tidak pernah menerima gaji.

Ketika perusahaan tempatnya bekerja ditutup, ia dipindahkan ke Myawaddy, Myanmar, pada Juli 2024 untuk melakukan pekerjaan serupa.

Jika di Kamboja ia hanya kehilangan gaji, di Myanmar Salman mengalami penderitaan yang lebih parah.

Ia mengaku sering mengalami kekerasan fisik selama bekerja di sana.

“Saya mengalami banyak perlakuan kasar,” ujarnya.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved