Berita Internasional

Korban Perdagangan Manusia di Kamp Myanmar Hadapi Kelaparan dan Kondisi Memprihatinkan

Mereka yang sebelumnya diselamatkan dari pusat-pusat penipuan kini harus menghadapi kelaparan, fasilitas kesehatan yang hampir tidak ada, serta kondis

Editor: Wawan Akuba
PHOTO: Reuters
KORBAN PENIPUAN -- Para korban pusat penipuan yang ditipu atau diperdagangkan untuk bekerja di Myanmar, terjebak dalam ketidakpastian di sebuah kompleks di dalam KK Park, sebuah pabrik penipuan dan pusat perdagangan manusia di perbatasan Thailand-Myanmar setelah tindakan keras multinasional terhadap kompleks yang dijalankan oleh geng kriminal, yang dioperasikan oleh Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF) di Myawaddy, Myanmar, pada 26 Februari 2025. 

Harapan Pulang yang Kian Menipis Meskipun beberapa negara seperti China dan Thailand telah mulai melakukan repatriasi, masih ada sekitar 7.000 orang yang terjebak dalam ketidakpastian, termasuk mereka yang berada di kamp DKBA.

Baca juga: Eropa Desak Gencatan Senjata di Ukraina, Trump Bersikap Keras

Bagi sebagian besar korban, kembali ke rumah bukanlah hal yang mudah.

Seorang pria 29 tahun yang meminta bantuan kepada kedutaan besar negaranya di China mendapat jawaban mengecewakan: mereka harus membeli tiket pulang sendiri.

Hal yang sama dialami pria lain dari Afrika Timur, yang tidak memiliki dana untuk kembali ke negaranya setelah menghabiskan hampir tiga bulan di pusat penipuan di dalam hutan.

"Saya tidak punya uang. Saya tidak tahu bagaimana bisa pulang," katanya dengan suara lirih.

Kondisi yang semakin memburuk di kamp mulai memicu kepanikan. Beberapa korban bahkan khawatir akan dikembalikan ke pusat-pusat penipuan yang terkenal dengan penyiksaan dan pemaksaan kerja paksa.

Tekanan Internasional untuk Bertindak Seiring meningkatnya tekanan dari komunitas internasional, otoritas Thailand mulai memperketat perbatasan dan hanya mengizinkan masuk mereka yang telah dijamin kepulangannya oleh negaranya.

Pemerintah Thailand menyatakan akan bekerja sama dengan kedutaan-kedutaan asing untuk memverifikasi kewarganegaraan para korban.

Namun, bagi mereka yang masih terjebak di kamp DKBA, harapan untuk kembali ke rumah semakin pudar. Dalam ketidakpastian dan penderitaan, mereka hanya bisa menunggu keajaiban yang akan membawa mereka keluar dari neraka ini.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved