Berita Internasional
Korban Perdagangan Manusia di Kamp Myanmar Hadapi Kelaparan dan Kondisi Memprihatinkan
Mereka yang sebelumnya diselamatkan dari pusat-pusat penipuan kini harus menghadapi kelaparan, fasilitas kesehatan yang hampir tidak ada, serta kondis
TRIBUNGORONTALO.COM -- Ratusan warga asing yang menjadi korban perdagangan manusia kini terjebak dalam penderitaan di kamp terpencil Myanmar.
Mereka yang sebelumnya diselamatkan dari pusat-pusat penipuan kini harus menghadapi kelaparan, fasilitas kesehatan yang hampir tidak ada, serta kondisi sanitasi yang mengkhawatirkan.
Tanpa akses mudah untuk kembali ke negara asal, mereka terpaksa bertahan dalam situasi yang tidak manusiawi.
Tertahan di Kamp dengan Kondisi Tragis Sekitar 470 orang kini berada di kamp yang dikelola oleh kelompok milisi Democratic Karen Benevolent Army (DKBA), di wilayah perbatasan Myanmar-Thailand.
Dua pria asal Afrika yang ditahan di sana mengungkapkan kondisi kehidupan yang semakin memburuk.
Mereka enggan menyebutkan nama karena alasan keamanan, namun membagikan lokasi mereka yang sesuai dengan kamp DKBA.
Baca juga: Kisah Maswia Pedagang Bahan Pokok di Pasar Liluwo Gorontalo, 16 Tahun Berjualan
Seorang pria berusia 29 tahun dari Afrika Tengah, yang dipindahkan ke kamp pada 15 Februari, mengungkapkan bahwa makanan sangat terbatas.
"Kadang kami hanya makan sekali sehari," katanya melalui telepon dengan suara lemah.
Tidak hanya itu, para perempuan di kamp tidak memiliki akses ke pembalut, sementara sekitar 500 orang harus berbagi lima toilet yang sangat kotor.
Kondisi yang mengenaskan ini semakin memperparah penderitaan mereka yang sudah mengalami trauma akibat eksploitasi sebelumnya.
"Kami Diperlakukan Seperti Binatang" Seorang pria lain, berusia 39 tahun dari Afrika Timur, tidak dapat menyembunyikan kemarahannya atas perlakuan yang diterima di kamp.
"Kami diperlakukan seperti binatang," ucapnya dengan nada getir.
Menanggapi keluhan ini, pejabat DKBA, Saw San Aug, mengklaim bahwa pihaknya berusaha membantu para korban dengan memberikan makanan dua kali sehari.
"Mungkin benar jumlah toilet tidak cukup," katanya. "Tapi kami melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang ada."
Namun, pernyataan ini jauh dari cukup untuk mengatasi penderitaan yang dialami para korban.
Harapan Pulang yang Kian Menipis Meskipun beberapa negara seperti China dan Thailand telah mulai melakukan repatriasi, masih ada sekitar 7.000 orang yang terjebak dalam ketidakpastian, termasuk mereka yang berada di kamp DKBA.
Baca juga: Eropa Desak Gencatan Senjata di Ukraina, Trump Bersikap Keras
Bagi sebagian besar korban, kembali ke rumah bukanlah hal yang mudah.
Seorang pria 29 tahun yang meminta bantuan kepada kedutaan besar negaranya di China mendapat jawaban mengecewakan: mereka harus membeli tiket pulang sendiri.
Hal yang sama dialami pria lain dari Afrika Timur, yang tidak memiliki dana untuk kembali ke negaranya setelah menghabiskan hampir tiga bulan di pusat penipuan di dalam hutan.
"Saya tidak punya uang. Saya tidak tahu bagaimana bisa pulang," katanya dengan suara lirih.
Kondisi yang semakin memburuk di kamp mulai memicu kepanikan. Beberapa korban bahkan khawatir akan dikembalikan ke pusat-pusat penipuan yang terkenal dengan penyiksaan dan pemaksaan kerja paksa.
Tekanan Internasional untuk Bertindak Seiring meningkatnya tekanan dari komunitas internasional, otoritas Thailand mulai memperketat perbatasan dan hanya mengizinkan masuk mereka yang telah dijamin kepulangannya oleh negaranya.
Pemerintah Thailand menyatakan akan bekerja sama dengan kedutaan-kedutaan asing untuk memverifikasi kewarganegaraan para korban.
Namun, bagi mereka yang masih terjebak di kamp DKBA, harapan untuk kembali ke rumah semakin pudar. Dalam ketidakpastian dan penderitaan, mereka hanya bisa menunggu keajaiban yang akan membawa mereka keluar dari neraka ini.(*)
Myanmar
Korban Perdagangan Manusia
Kamp Myanmar
Democratic Karen Benevolent Army
Berita Internasional
Gubernur Gorontalo
Gusnar Ismail
Provinsi Gorontalo
| Intelijen Korea Selatan Sebut Kim Jong Un Siapkan Putrinya Jadi Pewaris Kepemimpinan Korea Utara |
|
|---|
| WhatsApp Diblokir Total di Rusia, Kremlin Dorong Warga Gunakan Aplikasi Pesan Nasional |
|
|---|
| Iran Sebut Amerika Ajukan Empat Syarat untuk Hindari Perang, Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung |
|
|---|
| Analisis Geopolitik Jika Amerika Berani Serang Iran, Kapal Induk USS Abraham Lincoln Bisa Tenggelam |
|
|---|
| Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KORBAN-PENIPUAN-Para-korban-pusat-penipuan-yang-ditipu.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.