Berita Internasional

Korban Perdagangan Manusia di Kamp Myanmar Hadapi Kelaparan dan Kondisi Memprihatinkan

Mereka yang sebelumnya diselamatkan dari pusat-pusat penipuan kini harus menghadapi kelaparan, fasilitas kesehatan yang hampir tidak ada, serta kondis

Editor: Wawan Akuba
PHOTO: Reuters
KORBAN PENIPUAN -- Para korban pusat penipuan yang ditipu atau diperdagangkan untuk bekerja di Myanmar, terjebak dalam ketidakpastian di sebuah kompleks di dalam KK Park, sebuah pabrik penipuan dan pusat perdagangan manusia di perbatasan Thailand-Myanmar setelah tindakan keras multinasional terhadap kompleks yang dijalankan oleh geng kriminal, yang dioperasikan oleh Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF) di Myawaddy, Myanmar, pada 26 Februari 2025. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Ratusan warga asing yang menjadi korban perdagangan manusia kini terjebak dalam penderitaan di kamp terpencil Myanmar.

Mereka yang sebelumnya diselamatkan dari pusat-pusat penipuan kini harus menghadapi kelaparan, fasilitas kesehatan yang hampir tidak ada, serta kondisi sanitasi yang mengkhawatirkan.

Tanpa akses mudah untuk kembali ke negara asal, mereka terpaksa bertahan dalam situasi yang tidak manusiawi.

Tertahan di Kamp dengan Kondisi Tragis Sekitar 470 orang kini berada di kamp yang dikelola oleh kelompok milisi Democratic Karen Benevolent Army (DKBA), di wilayah perbatasan Myanmar-Thailand.

Dua pria asal Afrika yang ditahan di sana mengungkapkan kondisi kehidupan yang semakin memburuk.

Mereka enggan menyebutkan nama karena alasan keamanan, namun membagikan lokasi mereka yang sesuai dengan kamp DKBA.

Baca juga: Kisah Maswia Pedagang Bahan Pokok di Pasar Liluwo Gorontalo, 16 Tahun Berjualan

Seorang pria berusia 29 tahun dari Afrika Tengah, yang dipindahkan ke kamp pada 15 Februari, mengungkapkan bahwa makanan sangat terbatas.

"Kadang kami hanya makan sekali sehari," katanya melalui telepon dengan suara lemah.

Tidak hanya itu, para perempuan di kamp tidak memiliki akses ke pembalut, sementara sekitar 500 orang harus berbagi lima toilet yang sangat kotor.

Kondisi yang mengenaskan ini semakin memperparah penderitaan mereka yang sudah mengalami trauma akibat eksploitasi sebelumnya.

"Kami Diperlakukan Seperti Binatang" Seorang pria lain, berusia 39 tahun dari Afrika Timur, tidak dapat menyembunyikan kemarahannya atas perlakuan yang diterima di kamp.

"Kami diperlakukan seperti binatang," ucapnya dengan nada getir.

Menanggapi keluhan ini, pejabat DKBA, Saw San Aug, mengklaim bahwa pihaknya berusaha membantu para korban dengan memberikan makanan dua kali sehari.

"Mungkin benar jumlah toilet tidak cukup," katanya. "Tapi kami melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang ada."

Namun, pernyataan ini jauh dari cukup untuk mengatasi penderitaan yang dialami para korban.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved