Virus Nipah
Mewabah di India, Ini Akasab Virus Nipah Menjadi Ancaman Serius Bagi Kesehatan Global
Wabah Virus Nipah muncul di West Bengal, India, memicu kekhawatiran di sejumlah negara Asia. Lima kasus telah terkonfirmasi
Ringkasan Berita:
- India melaporkan wabah Virus Nipah di negara bagian West Bengal, dengan lima kasus terkonfirmasi
- Virus yang ditularkan lewat kelelawar buah ini memiliki tingkat kematian 45–75 persen
- Meski jarang, virus ini dapat menimbulkan gejala ringan hingga gangguan saraf berat,
TRIBUNGORONTALO.COM — Wabah Virus Nipah muncul di West Bengal, India, memicu kekhawatiran di sejumlah negara Asia.
Lima kasus telah terkonfirmasi, termasuk di antara dokter dan perawat, sehingga 100 orang dikarantina dan beberapa pasien dirawat di rumah sakit di Kolkata.
Sejumlah bandara internasional mulai melakukan pemeriksaan kesehatan bagi penumpang yang datang dari West Bengal.
Thailand menerapkan screening di tiga bandara utama, sementara Nepal mulai memeriksa pelintas di bandara Kathmandu dan perbatasan darat dengan India.
Kementerian Kesehatan India melaporkan bahwa 196 orang yang kontak dengan pasien terinfeksi telah dites negatif, sehingga penyebaran saat ini masih terbatas, menurut laporan Times of India dan BBC.
Apa Itu Virus Nipah dan Bagaimana Cara Penularannya
Virus Nipah dapat ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui kelelawar buah, konsumsi makanan yang terkontaminasi, atau kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Virus ini juga bisa menular antar manusia melalui cairan tubuh pasien.
Gejala awal menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
Beberapa pasien mengalami masalah pernapasan, termasuk sesak napas, batuk, dan pneumonia. Pada kasus parah, virus menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan kejang, koma, dan gangguan pernapasan.
Baca juga: Kronologi Lengkap Kasus Pedagang Es Gabus Kemayoran, Berujung Dugaan Kekerasan Aparat hingga Trauma
Masa inkubasi virus Nipah umumnya 4–14 hari, namun WHO melaporkan kasus dengan inkubasi hingga 45 hari. Tingkat kematian virus ini dilaporkan 45–75 % , dan hingga kini tidak ada vaksin atau obat khusus bagi manusia maupun hewan.
Upaya Vaksin dan Penelitian
Pada Desember 2025, University of Oxford bersama International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh memulai uji klinis fase dua vaksin Virus Nipah, melibatkan 306 peserta sehat berusia 18–55 tahun.
WHO menyatakan virus ini sebagai “priority disease”, yang membutuhkan penelitian dan pengembangan yang dipercepat.
Meskipun sebagian besar pasien yang selamat pulih sepenuhnya, sekitar 20 % mengalami gangguan neurologis jangka panjang, termasuk kejang, perubahan kepribadian, dan kasus ensefalitis yang muncul kemudian.
Sejarah dan Persebaran Wabah
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi saat wabah di Malaysia pada 1999. Sejak itu, kasus tercatat di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Singapura, Bangladesh, dan India timur laut.
Di India, wabah paling mematikan terjadi pada 2018, ketika setidaknya tiga orang dari satu keluarga meninggal akibat infeksi virus ini. Virus Nipah belum pernah dilaporkan di Kanada atau benua Amerika Utara.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENYAKIT-India-melaporkan-wabah-Virus-Nipah-di-negara-bagian-West-Bengal.jpg)