Tribun Podcast
FULL Wawancara Eksklusif Ismail Rasyid, Dari Perjuangan Masa Kecil hingga Jadi CEO Trans Continent
Cerita CEO Trans Continent Ismail Rasyid menceritakan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi CEO Trans Continent.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Ponge Aldi
Saya nggak 24 jam kerja karena mengatur sendiri. Kapan kita mau keluar menyesuaikan dengan kondisi fisik.
Tapi kan biaya yang besar di sana itu ada dua, biaya transportasi sama biaya perumahan. jadi kalau dengan mobil di tangan kita sudah muda apalagi bisa nabung sehari Rp100 ribu.
Setelah itu bisa bikin paspor karena kan KTP dulu masih daerah ya kita harus ke KTP lokal, urus kartu kuning kalau dulu namanya kalau cari kerja.
Saya lengkapi dan saya cari kerja lagi dan dapat pekerjaan yang saya sukai yang mirip dengan pekerjaan sekarang, tapi ditawari gaji cuman Rp150 ribu.
Padahal gaji saya sudah satu setengah juta tapi ini gak benar tapi di sana saya stuck kan, karena saya di sana juga kontrak sekian lama kontrak.
Jadi sehingga saya putuskan datang lagi ke pimpinan dan pada saat itu kebetulan beliau ini almarhum sekarang.
Letkol angkatan laut yang dulu masih dikaryakan di perusahaan yang saya suka tersebut. Dia buka open recruitment bukan kenal setelah diskusi. Dia bilang nggak bisa kamu kan belum punya pengalaman di ekspor impor.
Saya bilang memang belum punya pengalaman tapi saya siap belajar. Tapi kalau kami Rp 150 ribu, kemudian saya balik tapi saya suka sekali pekerjaan itu akhirnya satu minggu saya kembali lagi. Saya tawarkan Bos, saya kontrak saya bulan depan habis.
Beliau tetap bertahan dengan ini. Kamu kan belum bisa apa-apa, kemudian keluar statement begini Pak saya belum bisa apa-apa tapi saya siap belajar.
Kalau 1 bulan saya nggak berhasil bapak keluarkan tapi kalau saya 1 bulan bapak lihat ada kemampuan Bapak pertimbangkan. Jadi di situ kita deal.
Dari situ saya belajar-belajar rupanya satu bulan beliau senang, kemudian saya dipanggil. Dek bagaiana saya panggil GM Jakarta kemari untuk training kamu atau kamu dikirim ke Jakarta?
Saya bilang logikanya saya begini, izin Pak kalau Bapak dari Jakarta ke sini ongkos tiketnya sama, tapi saya hanya bisa belajar satu saja.
Tapi kalau bapak kirim saya ke Jakarta, saya bisa kenalan office boy sampai ke bos.
Saya bisa tidur di tempat kost yang mungkin sewa 200.000 per bulan saya bisa belajar di Tanjung Priok di Cengkareng, di kantor.
Oiya kamu berangkat, satu bulan dua bulan saya di sana. Kembali bang jadi Setelah itu saya sudah bisa training orang. baru beliau naikan gaji saya.
Tribun: Dari awalnya diragukan, ditolak tapi akhirnya dipercaya.
IR: Karena waktu itu kita di awal cuma, beliau baru 5 orang saya menjadi head operation. setelah itu dipercayakan untuk mentraining orang.
Saya rekrut, kita tumbuh.
TRIBUN: tapi kemudian setelah itu Abang bikin sendiri perusahaan?
IR: Belum, masih 2 step lagi jadi setelah itu, kebetulan beliau ini istri beliau itu perawat angkatan laut ya orang Belanda, lalu diperkenalkan saya ke adik iparnya.
Lalu saya dipanggil, kamu mau gak kerja di perusahaan in?
Jadi saya jawab mau karena bagus juga kan nah jadi saya bilang kalau saya bekerja di perusahaan ini saya mau tapi kalau bapak suruh kerja di sablonnya enggak.
Begitu akhirnya diberikanlah ruang ke saya diperkenalkan langsung ke bos saya yang kedua itu perusahaan asing yang orang Perancis ditawarkan kamu bisa kerja apa karena bisnisnya kan transport darat
Saya langsung ngomong bapak mau suruh saya apa?
Kamu bisa ini? Bisa, ini bisa? bisa!
Kemudian diberikan ruang, saya setap perusahaan dari nol, perusahaan itu tumbuh sampai berkembang 8 tahun.
Saya dengan beliau, baru berganti ke perusahaan berikutnya, nah di situ sudah saya pegang Indonesia kolaborasi dengan teman di Singapura karena dia pegang Singapura kita urus banyak proyek di Indonesia kita udah punya 8 cabang di situ ngurus. semua yang berkaitan dengankapal-kapal asing kru asin,
Kemudian barang-barang untuk di outdoor ya kita cari pesawat kapal kemudian juga kita mengurus semua yang berkaitan dengan perizinan.
Saya belajar cukup cepat dan kita diberikan, apa namanya kepercayaan ya sehingga saya membuat tim itu lebih kuat.
Kita santai 250 orang. tahun ke-10 itu Ada situasi yang kurang nyaman karena tingkat kejenuhan juga tinggi, karena saya sudah enggak punya lagi apa namanya challenge, saya enggak bisa bekerja tanpa ada challenge
Baru kalau hari-hari itu seperti itu monoton enggak bisa.
Ya nah beliau pindahkan saya ke Jakarta, ke Jakarta saya mengontrol dari Jakarta waktu itu tahun 98 saya udah Sudirman di Jakarta saya kontrol Indonesia itu dari Jakarta ke Papua ke Manado, jadi keliling karena waktu itu kan kita belum berkeluarga ya bebas iya sekitar 5 tahun
Tribun: Jadi ini sekitar limat tahun sebelum ya
IR: Sehingga posisi saya itu setelah itu sampai ke 2003 pertengahan saya resign.
Saya resign bukan apa-apa saya sudah gak punya challenge .
Saya dipercaya untuk ditawarkan perusahaan berikutnya, tapi belum jadi-jadi maka saya resign.
Akhirnya saya enggak tahu melakukan apa tapi saya memberikan itu baru teman-teman yang udah ada relasi baik kapal dengan seorang karena mereka itu hampir 80 persen adalah rekrutmen dan didikan saya.
Saya ditawarkan, saya bilang saya belum mau kerja.
Jadi ada klien saya orang Australia dia bagus dia bilang kamu gak saya suru kerja, kamu urus-urus saja, saya bilang saya gak ada uang, kemudian dia bilang nanti saya bantu.
Kan sewa kapal mahal, satu miliar, dua miliyar dan dibayar di depan. Jadi di kasih 10 persen, 20 persen, saya kelola.
Jadi oke, karena kepercayaan dari bos saya bisa. Jadi mulai dari situ.
Jadi 2003 saya mulai, enam bulan saya transisi perlahan dari bos saya. Jadi sampai dengan hari ini saya punya baik dengan bos saya yang lama.
Tribun: Jadi perusahan di Pontianak ya?
IR: Gak, saya pindah ke Kalimantan Timur, jadi sebelum saya menikah, saya sudah pergi ke mana-mana. Tapi kita yang paling saya suka itu Balikpapan.
Kemudian karena saya sudah tidak punya bos karena tinggal sendiri saya potang panting cari uang, saya ke Australia 2004 pertengahan ya, dapat kontrak pertama sekitar Rp 12 miliar saat itu.
Kita coba saja, nah saya panggil karyawan yang di tempat lama. Siapa yang mau ikut saya mau siap susah ni.
Jadi 80 persen karyawan didikan saya, ada yang angkat tangan, jadi sini kita berdua kerja, kamu di sini, saya pergi-pergi nih. Kasih dia motor, saya mau Pick Up
Tribun: Jadi perusahaan bapak sudah 21 tahun ya, di 22 cabang.
IR: Sebenarnya cabang di Indonesia dan beberapa negara yang sudah di ini sudah ada kalau saya itu bisnis kami ini trust yang paling tinggi. network yang paling penting.
Saya enggak bukan siapa-siapa dari saya kerja dari keluarga saya bukan dari pengusaha, bukan dari yang berada, bukan pejabat, bukan pegawai ,cuman kehidupan kami sangat akrab sebagai keluarga jadi ke mana saya pergi jaringan dapat memperkuatnya.
Almarhum ayah saya dulu ngomong santai, kita ngomong sama orang tua.
Ya karena waktu kita mau pergi-pergi itu ibu kita kan pasti projek jangan jauh-jauh kan gitu.
Jadi kalau ayah saya bilangnya enggak, anak laki-laki pergi saja, yang penting kamu jangan menipu orang tapi yang lebih bernilai kamu jangan ditipu orang cuma ini kan dalam ya kamu bergaul sebagai bebas kan jaga diri lah.
Jadi waktu terus berjalan keputusan saya tadi bukan pengin berusaha kan itu kan istilahnya insiden ya insiden nah pada saat itulah saya ke luar negeri saya cari ketemu teman.
Nah itu jaga silaturahmi, jaga kepercayaan bisnisnya tumbuh.
Gimana caranya nih supaya kita cepat karena di waktu awal dulu saya bekerja kan saya diberi ruang oleh bos. Saya ke Singapura, ke Jepang situasi Itu yang saya manfaatkan pada saat itu hubungan baik itu terjaga sampai keluar.
Karena orang mengenal perusahaan tersebut identik dengan saya tapi saya selalu bawa nama bos saya tapi karena objektif ya.
Nah ketemu teman nanti mereka rekomendasi, saya ambil keputusan saya masuk asosiasi itu namanya global link.
Tribun: Apakah pelanggan Trans Continent ada di semua negara?
IR: Tidak semua pelanggan ada di negara itu, tapi di semua benua ada.
Kita ada klien dia beli barang di Afrika, di Amerika karena teman kita semua networknya ada di situ.
Jadi dari 50 persen member kita di situ ada pekerjaan. Karena kalau mereka ke sini pasti cari kita karena dalam rekrutmen itu ada batasan. Jadi gak asal rekrutmen dia, jadi dia juga melihat kualitas.
Karena presiden direktur yang asosiasi ini kan juga bertanggung jawab kalau ada member yang nakal, ya ada satu dua yang nakal, ada juga ada asuransinya.
Jadi saya pikir dalam bisnis expert itu sangat penting. Jadi tanpa ekspert kita tidak tau mau kerja apa nih.
Pengalaman saya di awal itu sekian 20 tahun di logistik khususnya perminyakan, pertambangan di outdoor nah itu membuat hari ini saya bekerja di luar negeri, berarti ilmu kita nih kompetibel.
Yang kedua ada trust, kenapa karena kita berdua sudah kenal, lama lama percaya, kita deal jadi hampir 95 persen kita nggak ada agreement tertulis secara perjanjian.
Yang ada adalah ini penawaran ini kos kami, kamu jual berapa?
Jadi kalau kau jual Rp100, aku Rp120, jadi 20 ini kita bagi-bagi.
Nah yang ketiga kita memudahkan, enggak mungkin saya punya barang di Italia, cuman 5 kg apalagi saya punya barang di Itali misalnya 3.000 ton kan kita nggak ngerti juga regulasi negara mereka kan Tapi karena misalnya seperti Abang ada sana, kali paham persis ya regulasi.
Digital dengan kondisi itu berapa sih ongkosnya untuk dikirim ke Indonesia, ke Jakarta begitu saya terima Jakarta misalnya 500.000 dolar saya hitung dari Jakarta ke mana lagi nih Papua berapa berarti ini bagian saya nih.
Ya kan bagian yang sana tadi sampai ke Jakarta otomatis kan kita mantap kita sharing margin dan itu kita bayar hari ini. Jual dulu nanti bayar saya kita fifty-fity margin atau 30 per 70, itu terserah.
Kan ini memudahkan, coba bayangkan kita ada 10 negara terjadi yang sama, saya bilang tadi ini saling support.
Tribun: Untuk di Gorontalo, apa yang sudah berjalan dari perusahaan ini?
IR: Gorontalo sekarang kita sudah beroperasi dari tahun lalu tapi untuk lokasi kita membutuhkan sekarang kita di Sulawesi ini, ada di Bitung Manado
Dulu kami sewa dalam pelabuhan kerjasama dengan Pelindo untuk distribusi ke Halamahera, ke beberapa tujuan lain termasuk Davao, Filipina.
Seiring berjalan waktu kita ada rezeki, kita lihat bisa harus melakukan efisiensi kami beli tanah kebetulan di waktu itu belum KEK, nah Kami sekarang dalam kawasan KEK.
Ya kita akan terus di situ di Bitung jadi kita bisa menekan kos jadi ada daya saing dengan kompetitor.
Kita juga ada kantor di depan Airport Manado, kotanya kita ada tanah satu hektar lebih di situ.
Nah sekarang setelah itu kita bekerja untuk Bolmong, eh beberapa kondisi di situ.
Kemudian kita lihat Gorontalo ini ya karena Gorontalo Kami sekarang ada connecting dengan Palu gitu ya dengan Morowali dengan Makassar jadi Makassar kita sudah bangun cuman Makassar saya masih kerja sama dengan partner kita sewa tempatnya kita bangun kantor, kita kirim orang.
Nah Gorontalo ini saya melihat yang pertama tadi eh potensi selain di utama yang masih besar khususnya komoditi pertanian perikanan perkebunan.
Ya seperti ini pisang saya melihat pisangnya cukup bagus, sangat potensi.
Kedua kopra ya kopra ini juga sampai pabrik, VCO macam-macam ya saya lihat juga eh ikan ikan baik yang kualitas ekspor maupun kualitas yang konsumsi sehari-hari cukup bagus.
Kemudian juga saya lihat kopra ini yang sangat yang sangat challenge, bisa lihat ya dia mulai dari lidinya bisa dipakai turunan namun ya batok kelapanya sampai dengan yang butiran, limbahnya itu bisa diolah.
Tapi sekarang yang sangat potensial adalah untuk charcoalnya charcoal ini kan kalau di pertambangan mereka dipakai juga namanya karbon aktif itu diolah lebih tinggi lagi kelasnya dibandingkan dengan charcoal yang untuk barbeque permintaan ke luar negeri.
Pabrik yang sekarang yang ada di Jawa itu loh materialnya kurang sehingga produksinya kan kurang bersaing tapi masih bisa hidup nah teman saya punya satu pabrik dia di Bogor, dia beli tempurung itu dari dia dari mana-mana dibawa nih saya sebagai orang logistik bisa ngebayang
Jadi di lokasi kita bawa pabrik itu ke dekat material otomatis kan karena investasi ini investasi middle bukan investasi yang sangat high teknologi itu salah satu potensi yang kami lihat di sini.
Utama saya adalah supplication logistik jadi kuli angkut jadi mengangkut apa aja secara regulasi karena kita angkut sekarang alat-alat berat yang untuk untuk semua lah. baik itu seperti untuk energi, pertambangan dan lain sebaginya.
Tribun: semuanya distribusi melalui udara, laut dan darat?
IR: Kita sesuai dengan moda transport yang kita butuhkan ya di samping itu kami juga punya izin untuk mengangkut bahan B3 artinya seperti itu ya kemudian juga kita punya izin untuk mengangkut bahan peledak untuk komersil ya komersial dan ini kan kita bisa satu umbrella.
Izin ini semua terintegrasi karena harus kita lengkapin ya harus dengan lingkungan masyarakat kemudian barang itu sendiri.
Kita punya orang yang sangat kompeten orang-orang kita kita latih untuk sehingga kita lihat dari segala pertimbangan ini kembali bahwa distribution itu, kita perlukan supaya mudah kita pola yang berikutnya dari hub distribution ini berkaitan dengan barang-barang impor dan tujuan ekspor kita akan laksanakan untuk pembukaan apa yang bisa didapat.
Jadi pusat logistik berikat itu statusnya sedikit di bawah gudang berikat ada satu kawasan yang mendapatkan fasilitas dari bea cukai, kita mendapatkan dengan luas tertentu kita mendapatin fasilitas.
Misalnya gini kalau sekarang barang dari luar negeri mau masuk ke sini enggak bisa dikirim langsung karena tidak ada tempat penimbunan yang diawasi oleh dia itu kayak ya sehingga dengan memberikan ini industri-industri yang ada di sini project-proyek yang ada mereka bisa memasukkan barang itu lebih awal
Kenapa lebih awal karena kadang-kadang dalam negeri ini kan memeskan kapal dengan jadwal itu kan sulit sehingga barang ini kadang-kadang mau dikirim lebih cepat enggak ada tempat penampungan dikirim lambat enggak nyampe project-nya delay sehingga dengan kondisi ini kita hanya sediakan tempatnya nih. Kita lapor ke bea cukai kita bertanggung jawab penuh terhadap barang-barang yang di Gorontalo.
Tribun: Nanti Gorontalo rencananya akan begitu (pusat logistik berikat)?
IR: itu salah satu bisnis yang akan kita lakukan kami, kemarin sudah sempat juga ngobrol-ngobrol dengan Pak Pj Gub, nah dan beliau memahami tentang kondisi ini dan saya pikir ini adalah satu support baru buat kami karena memang itu bisnis kan saya lama di Batam. Batam itu kan kawasan bebas nah kawasan bebas tuh lebih luas lainnya jadi kalau ini nanti ada barang dari luar negeri. masuk ke Surabaya atau Jakarta enggak perlu dikirim, bisa bisa angkut terus ke tujuan tempat kita. Sampai ke sini, kita belum bayar masih ditangguhkan.
Jadi pajak impor biaya masuk dan lain-lain karena pemerintah memberikan kelonggaran apabila nanti barang itu enggak dipakai mau dikirim ulang lagi kan dia enggak rugi.
Pada saat barang ini ada di sini ternyata dibutuhkan oleh industri atau industri menyimpan sementara atau impor dari sini nah otomatis multi effect nya besar kan.
Pengelola ini kan membutuhkan tenaga kerja kemudian juga kemudahan bagi orang lain termasuk juga untuk tujuan ekspor.
Ekspornya sudah bisa dari situ, barang masuk dibuat di dari situ keluarnya dari situ jadi otomatis keunggulannya itu akan tercatat banyak maka IADI-nya dari pemerintah pusat akan kembali ke sini.
Jadi isentif daerah akan kembali ke sini, karena produk masyarakat yang dihasilkan dari masyarakat di Gorontalo ini gak akan lari.
Tribun: Investasinya akan terus bertambah ya di Gorontalo?
IR: kami lakukan tapi ini Insya Allah dari kita melihat bagaimana perkembangan di lapangan nah ini kan berarti kita merencanakan arang tempurung kan tadi memang targetnya untuk ekspor, konsumsi dalam negeri kan ga seberapa.
Tribun: Kebutuhan di Gorontalo ini cukup besar juga?
IR: saya melihat saya sudah keliling kebetulan kemarin sempat komunikasi dengan Dinas pertanian Alhamdulillah saya dibantu untuk melakukan survei dua kali saya survei ke dalam wilayah di Gorontalo Ini sentra-sentra kelapa cukup besar.
Terutama nih yang masih terbuang tempurungnya sudah terpakai tetapi harganya masih okelah.
ya tapi untuk khususnya kayak cocofiber, cocofiber untuk turunan selanjutnya itu masih besar sekali.
Karena itu memang limbah itu ya sabut itu kan jadi sekarang untuk seperti industri otomobil di luar negeri itu mereka memakai coco fiber itu serat dari kelapa itu untuk sadel mobil, sofa. Itu saya liat peluang yang bagus sekalian dengan ngolahnya.
Tribun: Soal Pengemukan Sapi?
IR: Saat ini Pemerintah Pemprov sudah mengajukannya itu, kami diskusikan dengan beberapa ahli dari sisi lain bahwa Saya melihat juga Gorontalo ini hampir setiap bulan mengirimkan sapi ke Kalimantan terutama dan itu pakai kapalnya tol laut ya Jadi kalau enggak salah di Kwandang.
Nah informasinya ini permintaan masih tinggi tapi demand-nya tinggi namun supply-nya belum berimbang kadang-kadang turun dan kami melihat ee Ini peluang yang bagus karena ngobrol-ngobrol kemarin kita lihat beberapa kajian dan lebih visible dijalankan kita mungkin mulai dengan 50 ekor 100 ekor kita lihat perkembangannya karena buat saya ini menarik karena di situ bisa memperkerjakan bisa melibatkan masyarakat setempat juga berkolaborasi dengan UMKM dan tenaga kerja bisa kita serap untuk ini.
Kalau ini bisa cepat kami laksanakan dalam konsep yang mungkin tidak lebih besar dulu.
Karena ini buat kami kan satu bidang ini harus belajar, karena kalau satu bidang ini nggak ada lagi kan kami ada alasan untuk tetap stay dan mengeksplore sisi lain dari keunggulan-unggulan Gorontalo.
Tribun: berapa banyak investasi di gorontalo?
IR: kira-kira hitungan detail di kantor ada ya cuman kemarin kita kan sekarang kita kalau taruh kendaraan itu seperti kepala truk.
Ada yang per roda ada 16 dan 10. rata-rata itu truk itu sekitar Rp 1,3 miliar ya berarti kita sekarang
punya 30 di sini, terkecil kemudian juga investasi untuk pembangunan lebih kurang ya Rp 50-an (miliar) lah lebih kurang ini karena pembangunan dan lain-lain
Tribun: termasuk (projek) nanti yang akan dibangun?
IR: Belum karena kita belum perkirakan ke sana karena ini kan proses investasi ini berjalan bertahap.
Tribun: Ini investasi besar. Pertanyaan warga Gorontalo penggunaan warga Gorontalo menjadi pekerja bagaimana?
IR: Pertama gini proses rekrutmen itu berdasarkan kebutuhan dan kompetensi ya, kita sekarang ini yang kami butuhkan.
Masa pembangunan ini yang kami butuhkan welder, operator forklift, operator Kren, driver truck terbesar.
Jadi sekarang ini untuk pekerja sebagian besar semua orang lokal kemudian, operator kita driver kita 90 persen orang lokal.
Di sini lebih banyak kita prioritas lokal karena banyak pertimbangan kalau di lingkungan kita sekarang adalah orang lokal keamanannya sudah pasti lah. Kos kita rendah, tidak perlu kirim sopir dari mana-mana.
Ini beberapa kebijakan yang kami ambil, pasti akan memprioritaskan lokal, kembali ke kompetensi tadi.
Tribun: Apa harapan diresmikannya Hub Trans Kontinent di Gorontalo?
IR: Ini kami baru mulai jadi harapan kami ke depan yang pertama support dari pemerintah dan masyarakat. tanpa itu sekuat apapun kita nggak bisa. Tanpa centeng pemerintah, tidak bisa.
Dalam pembanguan, lima hal harus terlibat baik.
Pertama pemerintah sebagai katalisator, buat regulasi yang mendukung supaya enggak konflik, enggak konflik tingkat daerah enggak konflik ke pusat.
Kedua tentu peran dunia swasta. Ketiga masyarakat harus dilibatkan.
Keempat peran besar yaitu perguruan tinggi yang menghasilkan banyak riset.
Satu lagi kelima, peran media juga cukup besar karena media ini gak menyampaikan siapa yang tau.
Kita butuh media yang netral, produktif, kan banyak media yang biasa tapi relatif lah.
Jadi kolaborasi ke semua pihak ini harus kita lakukan.
Tribun : Apa nasehat terhadap anak muda yang ingin jadi pengusaha?
IR : Kalau saya, lakukan sesuatu yang anda sukai, anda cintai dengan konsisten. Jangan menyerah, keberhasilan kita tidak tau kapan.
Siapapun punya impian tinggi, asal tidak biasa. Maka dalam perusahaan saya, kita menuju ke spesialisasi. Bersaing dengan yang umum itu capek. Kalau bersaing yang khusus, kompetensi tambah naik, kompetitor makin kecil.
Kita melakukan melakukan apapun harus serius, harus fokus dan konsisten. Persoalan waktu saja. (Jefry Potabuga)
| Dinas PUPR Kabupaten Gorontalo Prioritaskan Infrastruktur Pendukung UMKM hingga Penanganan Banjir |
|
|---|
| Basir Noho Beberkan Arah Besar Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com |
|
|---|
| Gorontalo Bakal Punya Stadion Sepak Bola Level Internasional, Groundbreaking Direncanakan Tahun 2026 |
|
|---|
| Sultan Kalupe Kupas Strategi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Gorontalo di Tribun Podcast |
|
|---|
| Zoonosis Virus Nipah Intai Indonesia, Karantina Gorontalo Terapkan Pengawasan Berlapis |
|
|---|