Tribun Podcast
FULL Wawancara Eksklusif Ismail Rasyid, Dari Perjuangan Masa Kecil hingga Jadi CEO Trans Continent
Cerita CEO Trans Continent Ismail Rasyid menceritakan perjalanan hidupnya dari masa kecil hingga menjadi CEO Trans Continent.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Ponge Aldi
Kemudian kami memutuskan untuk melakukan investasi dan lingkungan tempat kami beli tanah untuk bangunan kantor juga sangat akrab mereka cukup familiar, karena mungkin juga saya orang kampung jadi saya ke kampung merasa lebih gampang menyesuaikan diri.
Disamping itu, kondisi proses perizinan dari pemerintah setempat mulai dari desa sampai ke dinas terkait cukup lancar,dan sangat komunikatif adanya semua persyaratan kita penuhi dan yang kita belum bisa capai pada saat itu kita akan mencari solusi dari kita dibantu diarahkan cukup kondusif.
Tribun: Kami ingin tahu latar belakang, kuliahnya dimana sampai kemudian jadi pengusaha sukses kemudian mendirikan perusahaan, bisa Anda bisa menceritakan?
IR: Sukses itu relatif, kalau disebut sukses menjadi pengusaha Alhamdulillah tapi sampai hari ini saya masih sebagai orang yang berusaha karena itu kan sangat dinamis perkembangan di lapangan.
Dari kecil saya besar di daerah 1 Kecamatan Matangkuli kemudian saya menyelesaikan Sekolah Menengah di sana. kemudian SMA melanjutkan di Lhokseumawe Kota Aceh di SMA 1 Lhokseumawe lulus tahun 87. Kemudian saya melanjutkan S1-nya di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Jurusan Ilmu Studi Pembangunan karena memimpikan satu hari, jadi mimpinya besar.
Jadi bisa sebagai konseptor tingkat khayalan terlalu tinggi. Saya terinspirasi, saya suka itu moneter perdagangan internasional. Jadi dalam konteks ini pada saat itu pilihan saya jatuh ke ilmu seni bangunan.
Waktu Itu keluarga kehidupannya pas-pasan tapi dari segi keakraban cukup dekat namun dari segi ekonomi kurang beruntung jadi pada saat itu kuliah sembail bekerja.
Ya kerja kuliah membiayai diri sendiri kemudian juga ikut kursus-kursus bahasa Inggris, otodidak juga jadi amburadul namun sudah terlatih karena mungkin tekanan ekonomi kita sulit tapi keinginan besar.
Harus bisa membagi waktu dan punya daya juang yang tinggi dan alhamdulillah saya selesai nggak terlalu cepat lebih kurang 5 tahun kurang sedikit.
Kalau dulu kita gak ada semester pendek. Jadi kuliah itu ya harus menunggu semester yang ganjil.
ganjil-ganjil, genap-genap untuk perbaikan tapi alhamdulillah saya keluar tahun 93.
TRIBUN: Lalu S2 di Trisakti ya?
IR: S2 saya di Trisakti tapi S2 nggak langsung melanjutkan S2 karena selesai kuliah kan kebetulan pada saat itu Aceh itu masa konflik dan pilihan kita nggak banyak karena lapangan kerja di situ tidak banyak.
Kemudian situasi kurang kondusif untuk survive, tinggal pilih kita mau berjuang.
Rasanya kalau di luar kita berjuang, kalau di luar kan kita kelihatan susah tapi tidak diketahui orang kampung.
| Dinas PUPR Kabupaten Gorontalo Prioritaskan Infrastruktur Pendukung UMKM hingga Penanganan Banjir |
|
|---|
| Basir Noho Beberkan Arah Besar Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com |
|
|---|
| Gorontalo Bakal Punya Stadion Sepak Bola Level Internasional, Groundbreaking Direncanakan Tahun 2026 |
|
|---|
| Sultan Kalupe Kupas Strategi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Gorontalo di Tribun Podcast |
|
|---|
| Zoonosis Virus Nipah Intai Indonesia, Karantina Gorontalo Terapkan Pengawasan Berlapis |
|
|---|