Kamis, 12 Maret 2026

Tribun Podcast

Zoonosis Virus Nipah Intai Indonesia, Karantina Gorontalo Terapkan Pengawasan Berlapis

Ancaman penyakit zoonosis kembali menjadi perhatian dunia, termasuk Virus Nipah yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab

TRIBUNGORONTALO.COM – Ancaman penyakit zoonosis kembali menjadi perhatian dunia, termasuk Virus Nipah yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi pada manusia.

Dalam Podcast Studio TribunGorontalo.com yang dipandu oleh Herjianto Tangahu, Kepala Karantina Gorontalo Iswan Haryanto memaparkan sejarah, ancaman, hingga langkah mitigasi yang dilakukan di wilayah Gorontalo, Senin (9/2/2026).

Iswan menjelaskan bahwa Virus Nipah pertama kali menjadi perhatian global saat muncul di Malaysia pada 1998–1999.

Saat itu tercatat 265 kasus dengan 105 orang meninggal dunia. Dampaknya terhadap sektor peternakan sangat besar, lebih dari satu juta babi dimusnahkan. Malaysia baru dinyatakan bebas Nipah pada 2001.

Secara global, Virus Nipah (NiV) merupakan patogen zoonosis dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. WHO menetapkannya sebagai penyakit prioritas karena potensi wabah dan tingkat kematian yang tinggi.

Iswan menegaskan bahwa reservoir utama virus ini adalah kelelawar pemakan buah. Selain itu, babi juga berpotensi tinggi menjadi reservoir.

Penularan dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, misalnya buah yang terkena kotoran kelelawar. Pada babi, penularan bisa melalui kontak langsung maupun konsumsi.

Spesies kelelawar yang menjadi reservoir alami di antaranya Pteropus hypomelanus dan Pteropus vampyrus.

Iswan juga menyoroti deforestasi sebagai faktor lingkungan yang meningkatkan risiko zoonosis, karena satwa liar kehilangan habitat dan semakin sering berinteraksi dengan manusia.

Gejala Medis dan Dampak pada Manusia

Kepala Karantina Gorontalo drh Iswan Haryanto
PENYAKIT ZOONOSIS -- Kepala Karantina Gorontalo drh. Iswan Haryanto saat menjadi narasumber di Tribun Podcast, Senin (9/2/2026). Iswan membahas ancaman zoonosis Virus Nipah

Virus Nipah menyerang sistem pernapasan hingga saraf pusat manusia.
Gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gangguan pernapasan. Pada kasus berat, penderita dapat mengalami ensefalitis (radang otak) atau meningitis (radang selaput otak), bahkan penurunan kesadaran hingga kematian.

Tingkat fatalitas penyakit ini bisa mencapai 54 persen. Hingga kini belum ada vaksin atau terapi antivirus spesifik, sehingga penanganan masih bersifat suportif.

Kasus Nipah masih muncul sporadis di India dan Bangladesh, serta pernah tercatat di Filipina, Singapura, dan Malaysia. Meski demikian, Indonesia belum pernah melaporkan kasus positif.

Sebagai langkah antisipasi, Karantina Gorontalo menerapkan strategi pengawasan berlapis berbasis konsep One Health—pendekatan terpadu antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Pengawasan dilakukan di pelabuhan dan bandara untuk memastikan keamanan produk yang masuk ke Indonesia. Pihak karantina juga melakukan analisis risiko terhadap pemasukan produk hewan dan tumbuhan dari negara tertular Nipah.

Iswan menekankan pentingnya komunikasi cepat dengan pusat, serta bersyukur karena Gorontalo belum memiliki pelabuhan impor sehingga tingkat kerawanan relatif kecil. 

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Kamis, 12 Maret 2026 (22 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:30
Subuh 04:40
Zhuhr 12:01
‘Ashr 15:07
Maghrib 18:04
‘Isya’ 19:12

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved