Human Interest Story
Dari Modal Rp 150 Ribu, Zainal Abdul Radjak Raup Omset Rp 6 Juta dari Usaha Bubur Kacang Hijau
Jika dihitung, omset bersih yang ia dapatkan sekitar Rp 6 hingga 7 juta per bulan meski memulai usahanya hanya dengan modal kecil, yakni Rp 150 ribu.
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Zainal-Abdul-Radjak-saat-berkemas-mau-istrahat-siang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Zainal Abdul Radjak, seorang pengusaha bubur kacang hijau, berhasil meraup omset jutaan.
Jika dihitung, omset bersih yang ia dapatkan sekitar Rp 6 hingga 7 juta per bulan meski memulai usahanya hanya dengan modal kecil, yakni Rp 150 ribu.
Kesuksesan ini diraihnya setelah melewati berbagai tantangan dan perjuangan panjang sejak awal membuka usaha pada tahun 2019.
Tepat di depan simpang tiga Jalan Kalimantan dan Jalan Madura, sebuah gerobak sederhana terparkir.
Baca juga: Melihat Aktivitas Suci Fatmawati Maku, Ustadzah Muda Gorontalo yang Mengajar di TPQ Al-Maghfirah
Di gerobak inilah Zainal setiap hari berjualan bubur kacang hijau dan ketan hitam yang menjadi andalan usahanya.
Dibantu oleh saudara perempuannya, Zainal membuka dagangannya setiap hari mulai pukul 06.30 Wita.
Ia buka hingga 11.00 Wita, kemudian melanjutkan kembali pada sore hari dari pukul 05.30 Wita sore hingga tengah malam.
Satu porsi bubur kacang hijau dan ketan hitam yang dijual seharga Rp 10 ribu rupiah, dalam sehari bisa terjual hingga 30 porsi.
Dengan perhitungan tersebut, Zainal berhasil meraup omset yang cukup signifikan setiap bulannya.
Meski demikian, perjalanan menuju kesuksesan ini tidaklah mudah.
Baca juga: Viral! Seorang Remaja Gorontalo Histeris Karena Dititipkan Ibunya ke Polsek, Disebut Kapala Batu
Zainal mengungkapkan bahwa pada awal memulai usaha pada Januari 2019, ia menghadapi masa-masa yang sangat sulit.
Hari pertama membuka usaha, Zainal menyediakan satu ember besar bubur kacang hijau, namun hanya satu porsi yang berhasil terjual.
"Saya ingat, hari pertama saya buka usaha, satu ember besar terisi penuh, tapi hanya satu porsi yang terjual. Modal saya waktu itu Rp 200 ribu, dan sisanya harus dibuang," kenangnya sambil tertawa.
Tidak putus asa, Zainal kembali berjualan ke lokasi yang sama pada hari berikutnya.
Namun, penjualannya tetap rendah. Pada hari kedua, hanya dua porsi yang terjual, sementara sisa bubur harus dibuang lagi.
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
| Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025 |
|
|---|