Human Interest Story
Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo
Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ibrahim-Pakaya-alias-Opa-Bura.jpg)
Ringkasan Berita:
- Ibrahim Pakaya (71), atau Opa Bura, tetap konsisten berjualan gulali tradisional sejak 2012 karena enggan berpangku tangan atau merepotkan anak-anaknya yang sudah berkeluarga
- Mantan pedagang beras di era pasar tradisional ini beralih menjadi perajin gulali secara otodidak karena faktor usia
- Meski penghasilannya tidak menentu dan sering kali hanya cukup untuk kebutuhan dapur harian
TRIBUNGORONTALO.COM – Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Pria berusia 71 tahun yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya.
Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajakan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.
Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis.
Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah.
Ia memegang prinsip bahwa selama fisik masih mampu bergerak, ia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Saya memilih tetap berjualan jika masih bisa duduk dan bekerja seperti ini. Saya tidak mau hanya diam di rumah dan berharap (bantuan) dari anak-anak," ujar Ibrahim saat ditemui TribunGorontalo.com pada Sabtu (28/2/2026).
Dari Beras ke Gulali
Sebelum menjadi perajin gulali, Ibrahim adalah seorang pedagang beras di Pasar Sentral Gorontalo. Ia menjadi saksi hidup saat pasar tersebut masih sangat tradisional dengan harga beras hanya Rp1 per liter.
Namun, kenaikan harga komoditas yang tinggi dan faktor usia membuatnya harus beralih profesi.
Ia memilih gulali karena pekerjaan ini tidak terlalu menguras tenaga. Ibrahim mempelajari teknik pembuatan gulali secara otodidak melalui berbagai percobaan yang sempat gagal.
Opa Bura mengaku sempat berkali-kali gagal karena gula yang gosong. Ia sering bertukar pikiran dengan sesama penjual lama.
Kini, tangannya sudah lihai membentuk gula cair menjadi camilan manis.
Dulu, semangat Opa Bura membawanya berkeliling hingga ke luar daerah menggunakan sepeda motor. Ia sering menjajakan dagangannya di pameran-pameran besar di Palu, Sulawesi Tengah, hingga Manado, Sulawesi Utara.
Namun, seiring bertambahnya usia dan berubahnya kendaraan operasional menjadi becak motor (bentor), ia kini hanya menetap di dalam kota.