Human Interest Story
Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo
Ibrahim Pakaya duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ibrahim-Pakaya-alias-Opa-Bura.jpg)
Lokasi mangkal utamanya berada di kawasan Kalimantan–Madura (Kalimadu). Dari arah Perempatan Kompi Liluwo, lapaknya berada di sebelah kanan jalan, tepat di keramaian warga yang melintas.
Baca juga: Sosok Ramlan Amrain, Lurah Tenilo: Adik Leting Eks Gubernur Gorontalo Rusli Habibie di STKS Bandung
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Penghasilan dari gulali memang tidak menentu. Di bulan Ramadan ini, pembeli cenderung sepi.
Opa Bura menjual gulalinya dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 hingga Rp10.000 tergantung ukuran.
"Kadang saya pulang membawa Rp50 ribu. Uang itu biasanya langsung habis untuk membeli beras dan kebutuhan dapur," jelasnya.
Bagi Opa Bura, gulali bukan sekadar urusan mencari laba. Setiap helai gula yang ia tarik adalah cara ia menjaga harga diri. Ia melayani anak-anak dengan sabar dan senyuman, merasa bahagia ketika melihat mereka senang menikmati buatannya.
Meski raga tak lagi sekuat dulu, Ibrahim Pakaya membuktikan bahwa usia hanyalah angka. (*)