Dapur MBG Ditutup
Buntut Balita Keracunan MBG, 3 Pejabat SPPG Tuladengi Gorontalo Didesak Mundur
Penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, menyisakan dampak
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kondisi-terkini-SPPG-Tuladenggi-Gorontalo-resmi-ditutup.jpg)
Ringkasan Berita:
- Penyebab Penutupan: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tuladenggi ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional untuk evaluasi total
- Penutupan yang tiba-tiba ini memutus sumber penghasilan utama 47 relawan yang mengandalkan upah harian sebesar Rp110 ribu untuk menghidupi keluarga dan biaya pendidikan anak\
- Selain berharap operasional segera dibuka kembali, para pekerja meminta adanya pergantian pimpinan (Kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi)
TRIBUNGORONTALO.COM – Penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tuladenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, menyisakan dampak besar bagi para karyawannya.
Dua karyawan, Sunarti Sude dan Riska Dunggio, mengaku kaget dengan keputusan penutupan yang dilakukan secara tiba-tiba.
Keduanya telah bergabung sejak Agustus 2025 dan menjadikan SPPG sebagai sumber penghasilan utama.
Sunarti menceritakan awal dirinya bergabung hingga mengalami beberapa kali perpindahan tugas di dapur SPPG.
“Sejak bulan Agustus tahun lalu, ada pendaftaran,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com pada Rabu (18/3/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa selama bekerja, dirinya dipindahkan ke beberapa bagian.
“Pertama pencucian baru sekarang sudah dipindahkan ke bagian persiapan,” tambahnya.
Penutupan ini, menurut Sunarti, sangat berdampak karena menjadi satu-satunya tempat mencari nafkah bagi dirinya.
“Ini tempat mencari menghidupi keluarga, sedih rasanya,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Riska Dunggio. Ia menegaskan bahwa pekerjaan di SPPG merupakan sumber penghasilan utama mereka.
“Iya, ini sebagai mata pencairan utama kami pak,” kata Riska.
Riska juga mengaku terkejut dengan keputusan penutupan yang datang tanpa diduga.
Ia menggambarkan jam kerja mereka selama ini, khususnya di bagian persiapan.
“Masuk jam 5 sore pulang jam 12 malam,” jelasnya.