Human Interest Story
Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025
Abdul Gias Tomayahu, pemuda asal Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Abdul-Gias-Tomayahu.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa UNG asal Desa Leboto ini berhasil meraih 4 medali emas nasional di tahun 2025 dalam bidang Bahasa Indonesia dan Sejarah
- Meskipun tumbuh dengan keterbatasan akses teknologi, Gias telah berhasil menerbitkan 5 buku, termasuk karya bertema bahasa, spiritual, dan budaya
- Selain berprestasi akademik, Gias fokus pada riset psikolinguistik dan pemanfaatan AI dalam bahasa, serta memiliki visi menjadi akademisi yang membangun ruang literasi
(Penulis: Putri Salsabilah, Mahasiswa Bahasa Indonesia UNG)
TRIBUNGORONTALO.COM – Abdul Gias Tomayahu, pemuda asal Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, mengukir prestasi gemilang.
Abdul telah menerbitkan lima buah buku dan meraih rentetan medali emas di tingkat nasional sepanjang tahun 2025.
Buku yang ditulis Abdul antara lain Pelan-Pelan Pulang, Luka yang Ditulis Langit, Ngerti Bahasa Paham Budaya, serta 26 Hari Menemukan Kekuatan Diri.
Lantas, siapa Abdul Gias Tomayahu?
Abdul Gias Tomayahu merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Warga Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, ini tumbuh dalam asuhan kakek dan neneknya.
Ia memulai pendidikan dari PAUD di Desa Leboto, Kecamatan Kwandang, Gorontalo Utara.
Setelah itu, ia melanjutkan ke TK Teratai, kemudian bersekolah di SDN 1 Leboto yang kini bernama SDN 10 Kwandang.
Pendidikan menengah pertama ia tempuh di SMP Negeri 2 Kwandang, lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Gorontalo Utara.
Saat ini ia merupakan mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Gorontalo dan sedang berada di semester 4.
Awal mula jadi penulis
Kehidupan masa kecilnya jauh dari kemewahan, bahkan ia tidak memiliki ponsel maupun akses internet di rumahnya.
Namun, dari kesederhanaan itulah tumbuh ketekunan dan daya juang yang membawanya menjadi sosok literat yang diperhitungkan di tingkat nasional.