Minggu, 8 Maret 2026

Rusia Ukraina

Ukraina Terancam Kekurangan Amunisi, Rusia Ungguli Produksi 3 Kali Lebih Cepat

Menurut laporan perusahaan konsultan manajemen Bain & Company, biaya produksi artileri Rusia bahkan hanya seperempat dari dana yang dikeluarkan sekutu

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Ukraina Terancam Kekurangan Amunisi, Rusia Ungguli Produksi 3 Kali Lebih Cepat
TentaraUkraina
Tentara Ukraina yang kekurangan amunisi berperang lawan Rusia. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Rusia dilaporkan memproduksi peluru artileri sekitar tiga kali lebih cepat dan lebih murah dibanding sekutu Ukraina, negara-negara Barat. 

Menurut laporan perusahaan konsultan manajemen Bain & Company, biaya produksi artileri Rusia bahkan hanya seperempat dari dana yang dikeluarkan sekutu Ukraina

Hal ini yang menjadi tantangan besar angkatan bersenjata Ukraina. Sebab bergantung pada pasokan amunisi dari Amerika Serikat dan Eropa untuk melawan invasi skala penuh Rusia.

Perang sejak awal digambarkan sebagai "pertempuran api" karena banyaknya peluru artileri yang digunakan.

Hal itu mendorong AS, Inggris, dan sekutu Eropa lainnya untuk meningkatkan produksi di pabrik masing-masing.

Baca juga: Surat Terbuka Koalisi Jurnalis Gorontalo untuk Anggota DPR RI, Minta Sikapi RUU Penyiaran

Tetapi kemampuan mereka untuk memproduksi peluru artileri masih tertinggal di belakang Rusia meskipun kekuatan ekonomi gabungan yang jauh melampaui Moskow.

Akibatnya, tentara Ukraina di garis depan mengatakan bahwa untuk setiap satu peluru yang mereka tembakkan ke posisi Rusia, pasukan penyerang dapat meluncurkan sekitar lima peluru kembali.

Berjuang melawan segala rintangan, Ukraina mengatakan mereka telah menjadi terampil dalam mencoba membuat setiap peluru bermanfaat.

"Seringkali, hanya dengan satu, dua atau tiga peluru, kita bisa sepenuhnya menghancurkan target," kata Letnan Senior Kostiantin, komandan baterai artileri Brigade ke-57, yang sedang berperang melawan invasi baru Rusia ke wilayah Kharkiv, di timur laut Ukraina.

Tetapi komandan itu mengatakan pasukan Ukraina masih membutuhkan lebih banyak pasokan.

"Kita harus terus menahan Rusia dan membuat setiap meter tanah yang mereka coba ambil merugikan mereka dengan ratusan nyawa," katanya seperti dikutip dari news.sky.com, Minggu (26/5/2024). 

Penelitian tentang peluru artileri oleh Bain & Company juga menemukan bahwa pabrik-pabrik Rusia diperkirakan akan memproduksi atau memperbaharui sekitar 4,5 juta peluru artileri tahun.

Angka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi gabungan sekitar 1,3 juta peluru di seluruh negara Eropa dan AS.

Sky News mengunjungi sekelompok rekrutan baru di timur negara itu yang sedang belajar cara menggunakan rudal anti-tank N-LAW, yang pertama kali diberikan kepada militer Ukraina oleh Inggris.

Baca juga: Sampah Menggunung di Pohuwato, Ancam Keindahan Wisata Pantai Pohon Cinta

Mereka mengatakan kekurangan pasokan membuat mereka hanya berpura-pura menembakkan senjata dalam pelatihan dan hanya akan menggunakannya secara nyata saat bertempur - dan hanya jika ada stok.

"Kami kekurangan N-LAW dan kami membutuhkan lebih banyak," kata seorang prajurit dengan tanda panggilan "Bolt", yang sedang memberikan pelatihan kepada prajurit baru di batalyon pengintai Brigade ke-5.

Ditanya apakah dia memiliki pesan untuk para pekerja pabrik di Inggris yang merakit senjata itu, Bolt berkata: "Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada mitra Barat kami atas bantuan mereka. Namun, jika mungkin, kami akan sangat berterima kasih jika mereka dapat menyediakan lebih banyak amunisi NATO."

Pentingnya produksi senjata dan amunisi menjadi alasan mengapa banyak ahli mengatakan jalur produksi pabrik - daripada garis depan - bisa menjadi tempat Ukraina memenangkan perang.

Sky News mengunjungi sebuah pabrik di Belfast pada bulan April di mana rudal N-LAW dirakit oleh Thales, perusahaan pertahanan global. Senjata ini dirancang oleh perusahaan Swedia Saab.

perakitan berlangsung di dalam aula besar yang berisi campuran mesin penggiling logam dan meja tempat pekerjaan rumit dilakukan pada komponen kecil tapi vital.

Jam kerja di jalur produksi pada saat itu hanya empat hari seminggu dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, meskipun diyakini akan meningkat.

Thales memproduksi senjatanya sendiri di sini, termasuk Starstreak, rudal permukaan-ke-udara jarak pendek yang dapat menghancurkan pesawat terbang, dan Lightweight Multirole Missile (LMM). Kedua sistem ini juga digunakan di Ukraina.

Philip McBride, managing director Thales Belfast, mengatakan kapasitas produksi N-LAW telah meningkat dua kali lipat sejak awal tahun dan ada ruang untuk menggandakannya lagi.

Ditanya mengapa ekspansi baru dimulai saat itu, ketika perang skala penuh Rusia meletus pada Februari 2022, dia menjelaskan itu karena sejumlah faktor.

Pertama, Kementerian Pertahanan Inggris memasok N-LAW ke Ukraina, bukan Thales secara langsung. Rudal yang awalnya diberikan kepada militer Ukraina adalah rudal yang sudah dimiliki angkatan bersenjata Inggris dalam stok mereka sendiri. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved