Jumat, 6 Maret 2026

Sejarah dan Budaya

Menelusuri Sejarah Empat Kerajaan di Paguat Gorontalo, Bukti-bukti Masih Dicari

Ia mengatakan bahwa Paguat memiliki kisah tertua dari semua kecamatan yang berada di Kabupaten Pohuwato.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Menelusuri Sejarah Empat Kerajaan di Paguat Gorontalo, Bukti-bukti Masih Dicari
TribunGorontalo/Rahman Halid
Benda-benda peninggalan dari 4 kerajaan besar di Kecamatan Paguat Sementara di Pegang oleh Tokoh Adat dan Aparat Desa Paguat. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Pohuwato - Kecamatan Paguat di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.

Salah satu kisahnya adalah tentang empat kerajaan besar di wilayah tersebut sejak tahun 1851.

Kisah ini diceritakan oleh Yusuf Zaid, tokoh adat sekaligus imam besar Kecamatan Paguat.

Ia mengatakan bahwa Paguat memiliki kisah tertua dari semua kecamatan yang berada di Kabupaten Pohuwato.

Baca juga: Makam Raja Hubulo Gorontalo, Lokal Hingga Turis Belanda Datang Berziarah

Kisah ini berawal dari Putri Owutango, putri dari Kerajaan Palasa, yang dipersunting oleh Sultan Amai dari Kerajaan Gorontalo.

Putri Owutango didampingi oleh empat pengawal, yaitu Tudii, Papasinge, Dai Sambarane, dan Kasimu.

Selang sepuluh tahun, setelah Putri Owutango memiliki beberapa anak, terjadilah konflik keluarga antara Sultan Amai dan Putri Owutango. Perceraian pun tidak bisa dihindari.

2024-01-22_ Yusuf Zaid Tokoh Adat Paguat
Tokoh adat sekaligus imam besar Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, Yusuf Zaid (60).

Putri Owutango memutuskan untuk pulang ke Kerajaan Palasa. Dalam perjalanan melintasi laut Gorontalo, Putri Owutango dan keempat pengawalnya mengalami masalah ombak dan angin kencang.

Mereka pun memutuskan untuk berhenti di pantai Paguyaman.

Di pantai Paguyaman, Putri Owutango bertemu dengan Raja Ternate bernama Badullah.

Mereka pun menikah dan Putri Owutango dibawa ke Ternate.

Sementara itu, keempat pengawal Putri Owutango meneruskan perjalanan ke Tomini, Sulawesi Tengah.

Namun, mereka dihadang oleh bajak laut Suku Minandau. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menetap di Kecamatan Paguat dan membangun kerajaan masing-masing.

Keempat kerajaan tersebut adalah Kerajaan Sipayo, Kerajaan Bunuyo, Kerajaan Soginti, dan Kerajaan Siduan. Pusat pemerintahannya berada di Desa Sipayo.

Yusuf Zaid mengatakan bahwa pihaknya bersama tokoh adat di Kecamatan Paguat sedang mengumpulkan bukti-bukti dari keempat kerajaan tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved